
Pusat belanja atau mall di kota-kota besar, khususnya Jakarta, terus menunjukkan dinamika tinggi seiring perubahan preferensi konsumen. Fokus utama para pengembang kini bergeser pada diversifikasi penyewa dan peningkatan kualitas properti, agar tetap relevan. Demikian hasil riset Colliers Indonesia di kuartal III, 2025.
Banyak pusat perbelanjaan mulai berbenah melalui renovasi dan penataan ulang konsep agar lebih sesuai dengan tren gaya hidup dan pola belanja terkini. Upaya ini mencakup penyusutan area department store, pembaruan tampilan fasad, penataan ulang tata ruang, hingga penambahan penyewa baru yang berorientasi pada gaya hidup dan ritel tematik.
Pendekatan tersebut ditujukan untuk menyegarkan suasana mal dan memberi pengalaman berbelanja berbeda, dengan harapan bisa menarik lebih banyak pengunjung. Selain juga untuk memperkuat daya saing, yang antara lain dengan menawarkan variasi tenant yang lebih menarik.
Ferry Salanto, Head of Research Department Colliers, menyebut peritel F&B menjadi tenant yang menjadi penarik pengunjung mall saat ini. Selain juga lifestyle retailer, seperti gym, bioskop, playground, kursus-kursus atau gadget store. Hal ini agar sesuai dengan perubahan pola/gaya belanja konsumen saat ini, seperti yang pernah dinyatakan Alphonzus Widjaja, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI), bahwa saat ini mall bukan sekadar tempat belanja, melainkan juga rekreasi bersama keluarga dan teman. “Bahkan sekadar jalan-jalan atau melihat-lihat, sementara belanjanya melalui online, jadi yang lebih disuka tenant pendukung seperti F&B atau yang bersifat entertainment,” ujarnya, pada acara podcast bersama Koridor TV.
Terbukti, mall yang memiliki tenant F&B yang lebih variatif memiliki tingkat hunian yang lebih tinggi. Peritel tersebut diyakini bisa menjadi pendorong utama peningkatan tingkat hunian, selain juga toko yang ditata dengan gaya menarik, instagramable, atau menawarkan produk yang disuka dan bisa viral di kalangan anak muda.
baca juga: Capai 500 Klub Seluruh Dunia, Anytime Fitness Asia Lakukan Grand Opening Serentak di Delapan Negara
Selain perubahan pola belanja, tentu karena juga masih lemahnya daya beli konsumen kelas menengah. Hal ini, menurut Knight Frank, juga menjadi sebab masih hadirnya pengunjung ke mall lebih untuk makan minum, sosialisasi, dan mendapatkan suasana baru. Inilah pula yang menyebabkan, sejumlah tenant dari beberapa sektor, seperti fashion, lifestyle, dan home appliance, menutup gerainya di mall.
Sementara, peritel F&B lebih tangguh, bahkan beberapa jenama melakukan ekspansi, seperti Chagee, 88 Seoul, dan _ 4Fingers Crispy Chicken. Colliers menyatakan beberapa jenama asing asal China menunjukkan ketertarikan untuk buka outlet di mal Jabodetabek.
Tingkat hunian rata-rata mall di Jakarta saat ini di posisi 74,7%, sementara yang berlokasi di wilayah Bodetabek lebih rendah, yakni 69%. Menurut data Colliers, mal kelas atas lebih unggul dalam mempertahankan tingkat hunian tinggi, karena pengalaman ritel yang superior yang menarik bagi pengunjung. Mall kelas menengah mendominasi (di atas 50%) mall dengan ruang kosong yang lebih banyak. Hal ini sejalan dengan hasil riset Knight Frank, bahwa bahwa sebagian besar pengunjung mall kelas premium umumnya adalah pengunjung yang benar akan berbelanja.

Mall Harus Inovatif
Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia, menyatakan, “Pola belanja masyarakat saat ini mulai bergeser, sebagian transaksi terjadi dalam ranah ecommerce, sehingga ruang ritel saat ini menjadi multifungsi, tidak hanya sebagai tempat belanja, tetapi menjadi ruang hidup sebagai tempat interaksi, edukasi, sosialisasi, bermain, berolahraga, dan sebagainya. Pola konsumsi yang demikian, menjadi cukup menantang, sehingga pengelola ritel perlu terus melakukan inovasi, seperti mengadopsi desain ruang olahraga untuk mengakomodasi gaya hidup sehat, seperti inovasi ruang untuk padel tennis, pickleball, dan lain-lain.”
Sementara itu Colliers menyarankan, ke depan, fleksibilitas dalam strategi penyewaan akan menjadi faktor kunci, terutama bagi pusat perbelanjaan dengan tingkat kekosongan ruang yang tinggi. Hubungan yang baik antara pemilik dan penyewa utama serta kemampuan untuk terus menyesuaikan diri dengan tren konsumen, akan menjadi fondasi penting bagi keberhasilan jangka panjang.
Pemilik mal perlu terus didorong untuk berinvestasi dalam peningkatan fasilitas dan membangun suasana belanja yang sesuai dengan tren masa kini, yakni ritel yang menonjolkan pengalaman dan gaya hidup. Pasalnya, upaya ini diyakini mampu menarik lebih banyak merek ternama serta menjawab kebutuhan konsumen modern yang semakin dinamis.












