Optimalkan Proyek Berjalan, Strategi Intiland Capai Target Marketing Sales Sebesar Rp 1,95 Triliun

Bagikan

strategi

Mempertimbangkan tantangan dan risiko usaha ke depan, pada tahun 2026 ini, PT Intiland Development Tbk (Intiland) menempuh strategi memperkuat efisiensi pada proses operasional dan keuangan. Langkah ini sebagai upaya menjaga stabilitas usaha, meningkatkan kualitas profitabilitas, memperkuat struktur keuangan, serta melanjutkan transformasi bisnis secara terukur.

Demikian disampaikan dalam keterangan resmi Perseroan, usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025. RUPS Tahunan ini dihadiri oleh para pemegang saham, anggota Dewan Komisaris, dan Direksi Perseroan, digelar di Jakarta, (10/6), serta secara daring melalui layanan eASY.KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia).

Untuk itu, “Tahun ini kami masih cenderung konservatif dengan mengandalkan proyek-proyek yang telah berjalan. Pengembangan baru tetap kami siapkan, tetapi pelaksanaannya akan sangat selektif, dengan mempertimbangkan kesiapan produk, momentum pasar, dan daya serap konsumen,” ungkap Direktur Utama Intiland Archied Noto Pradono.

Intiland memproyeksi pasar properti tahun 2026 masih bergerak selektif, namun tetap memiliki peluang pertumbuhan terutama dari segmen perumahan dan kawasan industri. Peluang ini direspon dengan menyiapkan pengembangan kawasan industri baru di Jawa Timur dan peluncuran Tower E apartemen SQ Res, Jakarta, pada semester II 2026.

Dua proyek baru tersebut diharapkan dapat memberi kontribusi pada marketing sales tahun 2026 yang ditargetkan sebesar Rp1,95 triliun, lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar Rp1,61 triliun.

Untuk diketahui, pada kuartal I 2026, Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp619,8 miliar atau turun 3,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan pengembangan memberikan kontribusi sebesar Rp387,1 miliar, sedangkan pendapatan berulang atau recurring income tercatat sebesar Rp232,6 miliar.

Pendapatan berulang ini menjadi kontributor terbesar pada pendapatan di kuartal tersebut, yakni sebesar 37,5 persen. Diikuti segmen kawasan industri sebesar Rp227,4 miliar atau 36,7 persen, lalu perumahan sebesar Rp121,9 miliar atau 19,7 persen, dan high-rise residential sebesar Rp37,9 miliar atau 6,1 persen.

Strategi Kurangi Beban

strategi
(ki-ka): Archied Noto Pradono (Direktur Utama Intiland), Sofyan A. Djalil (Komisaris Utama dan Komisaris Independen), Friso Palilingan (Komisaris Independen), Alexander S. Rusli (Komisaris Independen)

Melihat kinerja yang ada, strategi utama Perseroan masih terfokus pada upaya menurunkan jumlah utang atau deleveraging. Strategi ini menjadi bagian penting dari kebijakan Perseroan untuk mengurangi beban keuangan, menjaga efisiensi operasional, dan memperkuat fundamental usaha.

Pada tahun 2025, Intiland berhasil menurunkan jumlah utang sebesar 25 persen menjadi Rp3,08 triliun dari Rp4,11 triliun pada tahun 2024. Penurunan tersebut dilakukan melalui restrukturisasi utang, percepatan pelunasan, penjualan aset non-inti, serta pelunasan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Intiland Development Tahap II Tahun 2022 dan Tahap III Tahun 2022 Seri B.

“Penurunan jumlah utang menjadi salah satu pencapaian penting. Langkah ini membantu kami mengendalikan beban keuangan, memperkuat struktur permodalan, dan memberikan ruang yang lebih baik bagi Perseroan untuk menjaga stabilitas usaha sekaligus menangkap peluang pertumbuhan ke depan,” kata Archied lagi.

baca juga: 2026 Pasar Properti Tumbuh Moderat, Apartemen Sewa Termasuk yang Terkerek

Strategi lainnya adalah meningkatkan kinerja penjualan dan keuangan secara lebih terarah. Fokus utama diarahkan pada optimalisasi proyek berjalan, penjualan stok siap jual, penguatan segmen perumahan dan kawasan industri, serta pengembangan program pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Guna mendukung stategi tersebut, Theresia Rustandi, Sekretaris Perusahaan Intiland, menyatakan, Perseroan belum membagikan dividen atas laba tahun buku 2025.  Perseroan membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp64,26 miliar. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp2 miliar digunakan sebagai dana cadangan wajib dan sisanya Rp62,26 miliar dicatat sebagai saldo laba.

“Kami melihat peluang pertumbuhan masih terbuka, terutama pada segmen yang memiliki kebutuhan nyata dan daya serap pasar yang lebih kuat. Strategi pemasaran dan pengembangan kami jalankan secara lebih terukur agar dapat mendukung pencapaian target kinerja sekaligus menjaga fundamental Perseroan tetap sehat,” tandas Archied.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *