
Riset Colliers Indonesia mendapati, pembeli makin memilih apartemen yang menawarkan unit-unit siap huni. Data Colliers hingga kuartal II 2025 ini, sekitar 70% penyerapan apartemen berasal dari pembeli yang mencari unit siap huni. “Tren ini menunjukkan preferensi konsumen lebih terhadap unit yang telah selesai, didorong oleh persepsi risiko yang lebih rendah serta dilanjutkannya insentif PPN 100%,” jelas Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia.
Minat investor tetap kuat, didukung oleh beragamnya skema pembayaran yang lebih fleksibel dan sederhana, yang ditawarkan pengembang. Namun, KPR mendominasi pilihan cara beli, karena konsumen bisa dengan lebih mudah mengelola arus kasnya. Dari sisi pengembang, skema pembayaran KPR bisa memperluas pasar yang dibidiknya, tidak hanya mereka yang punya cadangan dana lebih banyak.
Hal ini berbeda dengan era pra pandemi COVID, skema cicilan bertahap lebih dipilih, karena suku bunga KPR yang lebih tinggi. Saat ini, metode tunai maupun cicilan tunai kurang diminati, karena seringkali membutuhkan pembayaran di muka atau bulanan yang lebih tinggi, yang mungkin dianggap oleh banyak pembeli, lebih memberatkan secara finansial.
Seperti diketahui, pemerintah kembali memperpanjang kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) 100% untuk pembelian rumah tapak dan rumah susun (apartemen), hingga akhir tahun 2026. Mengutip dari CNBC Indonesia, Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu menjelaskan persyaratan untuk mendapatkan insentif PPN DTP masih sama dengan sebelumnya. Yakni, untuk rumah dengan harga maksimal Rp 5 miliar, dengan cover PPN DTP maksimal Rp2 miliar.
Sayangnya meskipun PPN DTP itu memudahkan pembelian, namun secara keseluruhan tingkat serapan tidak banyak berubah dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun demikian, pengembang sudah berani menaikkan harga penawaran, walaupun juga sangat sedikit, rata-rata0.67% (year on year).
Daerah Sekunder Jadi Pilihan
Kenaikan harga yang lebih signifikan terlihat di kawasan CBD dan area Jakarta Selatan, yang masing-masing 0,72% dan 0,71% (year on year). Pergerakan ini didorong oleh meningkatnya permintaan serta hadirnya pasok baru. Ada dua apartemen yang rampung dan diserah-terimakan, yakni Savyavasa dan Antasari Place yang keduanya berlokasi di daerah Jakarta Selatan. Sementara itu di daerah non-prime kenaikan hanya terjadi setinggi 0,58% (year on year).
Dengan kenaikan sekecil itu, harga penawaran rata-rata saat ini tercatat sebesar di Rp35,9 juta per m2. Adapun harga di CBD rata-rata setinggi Rp53,25 juta per m2, dan di daerah pinggiran separuhnya, rata-rata Rp27,3 juta per m2.
baca juga: Paradise Indonesia Mulai Serah Terimakan Unit Apartemen Antasari Place
Sementara itu dari sisi pasok, pertumbuhan diperkirakan mencapai 1,1% sepanjang 2025–2027, terutama ditopang oleh proyek-proyek baru di Jakarta Selatan. Wilayah ini diprediksi akan terus memimpin serah terima apartemen di masa mendatang. Jakarta Barat juga tetap menjadi kontributor utama, menempati posisi kedua dalam stok kumulatif apartemen. Posisinya diperkuat oleh ketersediaan lahan pengembangan yang luas dan harga tanah yang relatif terjangkau.
Sebaliknya, Jakarta Timur—yang saat ini masih didominasi perumahan tapak dan kawasan industri—menunjukkan pergerakan minimal dalam pengembangan apartemen hingga tahun 2027. Namun, proyek-proyek baru diperkirakan akan terkonsentrasi di sekitar simpul Transit-Oriented Development (TOD), yang secara bertahap akan meningkatkan daya saing kawasan tersebut.
Colliers memperkirakan, akan terjadi pergeseran fokus pilihan para pembeli dan pengembang, ke area sekunder. Serah-terima unit-unit pada waktu-waktu mendatang akan mendorong aktivitas penjualan, sehingga menghasilkan penyesuaian harga yang lebih kuat.
Jakarta Selatan, yang telah mengalami penyesuaian harga di awal tahun, mencatat pergerakan harga paling sedikit, terutama di segmen pasar menengah ke atas. Stabilisasi ini membatasi pertumbuhan harga lebih lanjut selama kuartal tersebut.
Cermati Pasar
Dengan kondisi muktahir, Colliers menyarankan para pengembang untuk memprioritaskan penyelesaian proyek tepat waktu, terutama untuk pembangunan yang dijadwalkan serah terima antara 2025 hingga 2027. Pengelolaan jadwal serah terima yang baik akan sangat penting guna menghindari tumpang tindih penyerahan unit dan memitigasi risiko kejenuhan pasar.
Untuk pembeli—baik untuk investasi maupun kebutuhan penghunian—disarankan untuk memantau pasar secara cermat, agar memanfaatkan peluang yang muncul, terutama dalam memperoleh unit dengan harga peluncuran yang lebih menarik.












