
Konsil Gedung Hijau Amerika Serikat atau U.S. Green Building Council (USGBC) baru saja mengumumkan negara di luar wilayah AS yang memiliki gedung besertifikat LEED terbanyak pada tahun 2025. Sertifkat LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) adalah sistem peringkat hijau yang diterbitkan oleh USGBC, organisasi yang secara independen memberi sertifikasi atas kinerja dan praktik industri dan bisnis yang hijau dan ramah lingkungan. Lembaga ini juga pemberi peringkat Green Business Certification Inc (GBCI).
Dari daftar tersebut didapat bahwa Tiongkok Daratan adalah negara di luar wilayah AS yang memiliki gedung besertifikat LEED terbanyak secara global. Yang menarik Vietnam ada dalam daftar tersebut, dengan 100 proyek yang bahkan mengalahkan Hong Kong dengan 96 gedung, namun memiliki luas bangunan lebih besar. Ini adalah prestasi perdana Vietnam berada di dalam daftar tersebut.
USGBC mengungkapkan bahwa sertifikasi ini terus berkembang secara global. Sudah ada lebih dari 7.500 proyek komersial memiliki sertifikat ini pada tahun 2025, setara dengan lebih dari 147 juta m2 bruto (Gross Square Meter – GSM). Sebagai “pemilik” sertifikat, AS tetap menjadi pasar terbesar di dunia, dengan lebih dari 50 juta GSM ruang yang sudah bersertifikasi hijau ala AS ini.
Sepanjang tahun 2025, pasar menyaksikan peningkatan adopsi sertifikasi LEED ini, yakni untuk bangunan eksisting dan untuk Operasi dan Pemeliharaan (O+M). Hal ini menunjukkan bagaimana pemilik dan pengelola bangunan berkomitmen untuk memangkas biaya melalui efisiensi energi dan mengubah bangunan menjadi aset berkinerja tinggi. Meskipun tren ini mencakup semua sektor, proyek pergudangan dan pusat distribusi merupakan pendorong utama pertumbuhan sertifikasi ini secara global, baik masih konstruksi baru maupun bangunan eksisting.
“Permintaan akan sertifikasi bangunan LEED terus meningkat di pasar global, yang menandakan bahwa pemilik aset dan penghuni terus berkomitmen pada kualitas jangka panjang, keberlanjutan, pengurangan risiko, dan ruang yang lebih sehat,” ucap Angelo Petrillo, chief growth officer, USGBC and GBCI. Pada tahun lalu, imbuhnya, kita melihat pertumbuhan luar biasa dari jumlah fasilitas pergudangan dan distribusi yang meraih sertifikat ini pada Top 10 markets. “Hal ini menunjukkan fokus yang makin tajam dari pengelola gedung pada efisiensi operasional dan penghematan,” tandas Petrillo.
Pasar yang Makin Matang di Asia Utara
Tiga negara di Asia Utara, Tiongkok, Hong Kong SAR dan Korea Selatan—masuk dalam daftar peringkat tersebut, yang mencerminkan skala dan kedalaman adopsi LEED yang berkelanjutan di kawasan tersebut, serta menggarisbawahi kematangan pasarnya.
Tiongkok Daratan secara konsisten tetap berada di peringkat 10 besar global sejak 2016, menegaskan komitmennya pada pasar yang berkelanjutan dalam skala besar. Gudang dan pusat distribusi tetap menjadi sektor yang kuat dalam mengadopsi LEED, dengan pergeseran yang signifikan menuju sertifikasi LEED (O+M) untuk gudang eksisting (bahkan sudah melebihi sertifikasi untuk bangunan baru). Pergeseran ini menandakan fokus yang kuat pada kinerja operasional.
Sementara itu di Hong Kong, isu dekarbonisasi pada bangunan eksisting telah menjadi fokus utama. LEED O+M kini mendominasi sertifikasi tahunan, terutama didorong oleh penataan interior. Sertifikasi ulang mencapai sekitar 10% dari sertifikasi pada tahun 2025, mencerminkan adanya peningkatan penekanan pada kinerja operasional jangka panjang. Adapun Korea Selatan tetap stabil dan konsisten dalam penerapan sertifikasi bangunan hijau, terutama pada sektor perkantoran dan gudang.
baca juga: Green Office Sudah Jadi Standar Minimum Preferensi Pasar Perkantoran di CBD Jakarta
Pertumbuhan LEED di Pasar Asia Lainnya
India melanjutkan posisinya sebagai pasar besar dari proyek-proyek yang sudah besertifikat LEED, mendorong negeri ini naik ke peringkat kedua pada tahun 2025. Makin banyak gedung di negara ini yang sudah meraih LEED O+M, bahkan jumlahnya melampaui proyek konstruksi baru dan interior, yang menandakan bagaimana negeri ini makin fokus pada kinerja berkelanjutan. Pasar real estat India memang sedang tumbuh pesat, dan semakin banyak proyek-proyek baru yang mengadopsi LEED. Proyek baru ini, tidak hanya di sektor perkantoran, tetapi juga di sektor industri, pergudangan, perhotelan, ritel, dan pendidikan.

Sebagai debutant, Vietnam memang berhasil membuktikan konsistensinya dalam pertumbuhan secara bertahap. Pada tahun 2025, pertumbuhan LEED yang paling signifikan dan eksponensial terjadi di sektor manufaktur dan pergudangan industri. Tren ini menandakan pergeseran struktural, di mana aset produksi dan logistik yang berorientasi ekspor semakin diposisikan sebagai fasilitas berstandar global dan siap memenuhi standar—dengan LEED sebagai alat yang andal untuk menunjukkan kredibilitas ESG sebagai daya tarik bagi penyewa, dan investor.
Di Uni Emirat Arab (UEA), adopsi LEED dapat dikaitkan dengan permintaan pasar, komitmen iklim negara tersebut, serta proposisi nilai finansial dan internasional. Sektor ritel merupakan sektor dengan pertumbuhan tercepat di negara tersebut, didorong oleh cabang ritel lembaga-lembaga keuangan, jenama mewah, dan gerai-gerai yang beralih ke LEED untuk memenuhi tujuan ESG mereka yang lebih besar dan untuk mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan, sebagai komponen kunci dari pengalaman dan kepuasan pelanggan.
10 Negara dengan Gedung Besertifikat LEED Terbanyak
|
Peringkat |
Negara/Wilayah |
Luas Kotor (GSM) |
Jumlah Proyek |
| Amerika Serikat | 50,129,093 | 2,228 | |
| 1. | Tiongkok Daratan | 26,645,737 | 1,939 |
| 2. | India | 16,111,512 | 611 |
| 3. | Kanada | 8,450,146 | 288 |
| 4. | Korea Selatan | 3,879,192 | 100 |
| 5. | Meksiko | 3,294,953 | 144 |
| 6. | Hong Kong SAR of PRC | 3,158,950 | 96 |
| 7. | Brazil | 2,933,631 | 171 |
| 8. | Vietnam | 2,602,797 | 100 |
| 9. | Swedia | 2,564,921 | 183 |
| 10. | Uni Emirat Arab | 2,251,714 | 174 |












