
Perubahan cuaca secara ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini menjadi tantangan baru bagi pengelola apartemen dan bangunan tinggi di Indonesia. Intensitas hujan yang meningkat, suhu udara yang semakin panas, serta perubahan pola cuaca yang sulit diprediksi tidak hanya berdampak pada kenyamanan penghuni, tetapi juga mengancam ketahanan fisik bangunan dan meningkatkan biaya pemeliharaan.
Isu ini menjadi tema dalam seminar “Dampak Perubahan Ekstrem Cuaca Terhadap Perawatan Apartemen” yang diselenggarakan bekerja sama dengan Ikatan Manajer Real Estate Indonesia (IMREI), dengan didukung oleh Aquaproof di Menara BPJamsostek, Jakarta, (18/6/2026).
Dihadiri oleh lebih dari 100 orang pengelola apartemen di wilayah Jabodetabek, seminar ini diisi oleh tiga narasumber, yakni Dance Aquarianto Ketua Umum IMREI, Plt Direktur Utama PT Adhi Persada Gedung Hanif Setyo Nugroho yang diwakili oleh Senior Project Manager Aroka Aryadeta, serta Head of Project Business Division PT Adhi Cakra Utama Mulia Samudra Sinulingga.
Acara dibuka dengan keynote speech oleh Ir. Subkhan, S.T., M. PSDA, IPU, ASEAN Eng, Ketua Dewan Pengawas IMREI, sekaligus Ketua Umum Forum QHSE BUMN Konstruksi, yang menyoroti tentang pentingnya penerapan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) dalam pengelolaan aset properti. Menurutnya, ESG kini telah menjadi bagian penting dalam strategi bisnis perusahaan properti untuk menghadapi risiko perubahan iklim sekaligus meningkatkan daya saing.
“Implementasi ESG bukan lagi sekadar pilihan, tetapi kebutuhan strategis. ESG membantu perusahaan mengidentifikasi risiko, meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat reputasi perusahaan, dan membuka akses terhadap pendanaan berkelanjutan,” ujarnya.
Subkhan juga mengingatkan bahwa sektor properti memiliki kontribusi besar terhadap konsumsi energi dan emisi karbon. Oleh karena itu, berbagai langkah seperti efisiensi energi bangunan, pengelolaan limbah berbasis prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), penggunaan energi terbarukan, digitalisasi pengelolaan gedung, serta peningkatan aspek keselamatan kerja harus menjadi bagian dari standar baru pengelolaan properti modern.

Hal senada dinyatakan oleh Dance Aquarianto, bahwa fenomena perubahan ekstrem cuaca kini sudah menjadi salah satu risiko utama yang harus diantisipasi oleh seluruh pengelola apartemen, dan gedung-gedung tinggi di Indonesia.
“Cuaca ekstrem tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui pengelolaan gedung yang proaktif. Pengelola tidak bisa lagi bersikap reaktif setelah kerusakan terjadi, melainkan harus membangun sistem pemeliharaan dan mitigasi risiko yang terencana,” ujar Dance.
Menurutnya, curah hujan ekstrem, angin kencang, suhu panas yang meningkat, hingga sambaran petir berpotensi menimbulkan berbagai gangguan terhadap bangunan, mulai dari kebocoran, kerusakan fasad, gangguan sistem mekanikal dan elektrikal, hingga peningkatan biaya operasional dan pemeliharaan
Dari sisi kontraktor, ketahanan fasad adalah garis pertahanan pertama bangunan dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Seperti yang dikatakan itu, Aroka Aryadeta bahwa fasad tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai pelindung utama struktur bangunan dari hujan ekstrem, tekanan angin tinggi, fluktuasi suhu, polusi, dan paparan sinar ultraviolet.
“Kerusakan fasad dapat memicu kebocoran, korosi, kerusakan sealant, hingga retak struktural yang berdampak pada keselamatan penghuni, kenyamanan operasional, dan nilai aset bangunan,” jelas Aroka.
Ia mengungkapkan bahwa biaya perbaikan fasad yang dilakukan setelah kerusakan terjadi bisa mencapai tiga kali lebih besar dibandingkan biaya pemeliharaan preventif yang dilakukan secara berkala.
Karena itu, pengelola gedung didorong untuk mengadopsi pendekatan preventive maintenance berbasis data melalui inspeksi rutin, audit fasad berkala, pemanfaatan teknologi drone, termografi inframerah, serta penerapan Building Information Modeling (BIM) guna mendeteksi potensi kerusakan sejak dini.
“Minimal setiap enam bulan sekali harus lakukan inspeksi bagian luar bangunan, baik inspeksi visual maupun dengan lebih dalam,” tegas Aroka.
baca juga: Proptech Bantu Operasional Pengelolaan Properti Lebih Efisien
Produk Pelindung Bangunan di Era Perubahan Ekstrem
Seminar ini juga menyoroti hasil kajian perubahan iklim yang menunjukkan suhu permukaan Jakarta telah meningkat sekitar 1,6 derajat Celcius dalam 130 tahun terakhir. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya intensitas dan frekuensi hujan ekstrem yang berpotensi mempercepat degradasi material bangunan, meningkatkan risiko kebocoran, memperpendek umur layanan komponen bangunan, serta meningkatkan biaya pemeliharaan.
PT Adhi Cakra Utama Mulia melalui produknya Aquaproof turut memberikan pandangan mengenai pentingnya sistem waterproofing yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim. Samudra Sinulingga mengatakan, “Perubahan iklim telah mengubah standar ketahanan bangunan. Sistem perlindungan yang dulu dianggap memadai, kini harus ditingkatkan, agar mampu menghadapi cuaca yang semakin ekstrem,” ujarnya.
Menurutnya, paparan sinar ultraviolet yang semakin tinggi, perubahan suhu yang memicu pemuaian dan penyusutan material bangunan, serta meningkatnya tekanan air akibat curah hujan tinggi menjadi faktor utama yang mempercepat munculnya retak rambut, rembesan, dan kebocoran.

Sebagai solusi, Aquaproof memperkenalkan konsep One Building Complete Protection System yang mencakup perlindungan menyeluruh pada area-area kritis bangunan. Sistem tersebut meliputi Aquaproof Pro untuk roof deck, Hydrostop untuk basement dan area bertekanan air tinggi, Aquaproof untuk perlindungan fasad dan dinding eksterior, serta Conseal sebagai solusi waterproofing nat keramik tanpa perlu pembongkaran.
Samudra menegaskan bahwa penerapan sistem waterproofing yang tepat tidak hanya mampu mencegah kebocoran dan memperpanjang usia bangunan, tetapi juga membantu pengelola properti menekan biaya pemeliharaan jangka panjang, menjaga nilai aset, serta meningkatkan kenyamanan penghuni.
Para peserta seminar sepakat bahwa pengelolaan aset properti di masa depan tidak lagi hanya diukur dari tingkat okupansi dan pendapatan sewa. Kemampuan suatu bangunan untuk bertahan menghadapi risiko perubahan iklim, menjaga keberlanjutan operasional, serta memberikan nilai jangka panjang bagi pemilik dan penghuni akan menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing sebuah aset properti. Oleh karena itu, integrasi prinsip ESG, penguatan pemeliharaan preventif, pemanfaatan teknologi, dan peningkatan ketahanan bangunan menjadi langkah yang harus segera dilakukan oleh seluruh pelaku industri properti di Indonesia.










