
BP Tapera akan kembali menyelenggarakan akad massal KPR Sejahtera FLPP serta akad KUR Perumahan pada 30 Juli 2026. Direncanakan akan disaksikan secara langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto, dalam acara ini juga akan dilakukan serah terima kunci secara simbolis kepada penghuni baru penerima manfaat kredit tersebut.
Puri Delta City Side yang berlokasi di Desa Kaliwareng, Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah akan menjadi tempat penyelenggaraan. Dipilihnya perumahan yang dikembangkan oleh PT Dwiwahana Delta Megah ini mengingat sebagai salah satu perumahan subsidi yang berhasil mengembangkan rumah rakyat berkualitas. Di lahan seluas 13 ha dengan potensi pengembangan mencapai 1.219 unit rumah, telah dibangun 200 unit dan 150 di antaranya telah terjual.
Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, menerangkan, lokasi perumahan ini tidak jauh dari beberapa kawasan industri terpadu yang tersebar di Kabupaten Batang. “Kabupaten ini merupakan kawasan industri yang potensial dari sisi kebutuhan penyediaan perumahan untuk pekerja,” ujarnya.
Heru juga mengungkapkan bahwa Provinsi Jawa Tengah menduduki peringkat kedua nasional dalam penyaluran KPR Sejahtera FLPP dalam beberapa tahun terakhir. Per 23 Juli 2026 di provinsi ini telah terealisasi sebanyak 9.772 unit rumah atau senilai Rp 1,12 triliun, sementara tempat teratas masih diduduki oleh Provinsi Jawa Barat dengan 26.394 unit rumah setara Rp 3,32 triliun.
Penyelenggaraan Ketiga
Kegiatan akad massal ini adalah kali ketiga. Dua kegiatan sebelumnya sudah diselenggarakan pada 29 September 2025 di Cileungsi, Jawa Barat sebanyak 26.000 unit dan pada 20 Desember 2025 di Serang, Banten sebanyak 50.030 unit.
Akad massal 62.000 unit ini adalah calon debitur KPR Sejahtera FLPP dari 100 titik di 36 provinsi dan melibatkan 36 bank penyalur mitra kerja BP Tapera, dengan nilai total sebesar Rp 800 miliar. Dari jumlah debitur tersebut, sebanyak 200 calon debitur akan hadir secara langsung di lokasi, sedangkan selebihnya akan hadir secara daring. Debitur yang langsung tersebut berasal dari 10 bank mitra kerja penyalur FLPP. Yaitu BTN, BSN, BNI, Mandiri, BSI, BPD BJB, BPD Jateng, BPD Jateng Syariah dan BPD DIY.
Kasubdit Pembiayaan Perumahan Kementerian PKP Achmad Purwo Hardjanto menambahkan, dari peserta KUR Perumahan, akan dihadiri oleh 7.100 debitur, yang terdiri aras 6.873 debitur dari sisi permintaan dan sisanya dari sisi penyedia. Dari jumlah tersebut, 200 debitur akan hadir secara langsung ke lokasi.
Adapun penerima kunci rumah secara simbolis diwakili oleh 10 peserta dari tiap KPR Subsidi dan KUR Perumahan. Kesepuluh peserta ini berasal dari profesi beragam, mulai dari anggota TNI & POLRI, guru, perawat hingga pengemudi ojek online.
baca juga: Makna Rumah dan Kota bagi Kafin Noe’man di Road to ICAD 16
Realisasi Penyaluran FLPP
Lebih lanjut Heru menyampaikan bahwa perhatian pemerintah terhadap sektor pembiayaan perumahan ini sangat besar. Hal tersebut terbukti dari dua kegiatan sebelumnya yang juga dihadiri oleh Presiden RI. “Ini menjadi bukti bahwa Pemerintah menaruh perhatian dalam penyediaan hunian pertama bagi masyarakat, terutama masyarakat berpenghasilan rendah,” tandasnya.
BP Tapera menyampaikan, hingga 23 Juli 2026, institusi ini telah menyalurkan dana bantuan pembiayaan FLPP sebanyak 111.537 unit dengan nilai total sebesar Rp 12,874 triliun. Dilihat dari profil penerimanya, sebanyak 71.250 orang adalah pekerja swasta dan ini terbanyak, yaitu 63,88%. Berikutnya wiraswasta (19.254 orang atau 17,26%), lalu ASN dan TNI/POLRI (10.944 orang atau 9,81%), sisanya 10.098 orang dari kategori lain-lain.

Institusi ini juga mengungkapkan, mayoritas penerima FLPP berusia 19–30 tahun atau pekerja muda, dengan penghasilan Rp3 – Rp5 juta per bulan. Preferensi rumah yang dipilih mayoritas adalah rumah dengan harga Rp150–175 juta, di tanah seluas 60–90 m², dan luas bangunan 31–36 m².
“Mereka mengutamakan keterjangkauan pembiayaan, cenderung memilih tenor 10–15 tahun dengan uang muka di bawah 1%, serta hampir seluruhnya memilih rumah tapak dibandingkan rusun,” papar Heru lagi.
Tidak heran dari 111.537 unit yang sudah mendapat pembiayaan FLPP, hanya ada 10 unit rusun yang sudah dibiayai FLPP dengan nilai total sebesar Rp 1,32 miliar.
Adapun profil wilayahnya, terkonsentrasi di daerah-daerah dengan aktivitas industri tinggi, terbesar berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten, yang memang sebagai pusat tenaga kerja dan kawasan industri. Hal ini, semakin menegaskan, “FLPP semakin inklusif menjangkau wilayah perkotaan hingga pedesaan,” tutup Heru.












