Makna Rumah dan Kota bagi Kafin Noe’man di Road to ICAD 16

Bagikan

Kefin Noe'man, ICAD, Road to ICAD 16

Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) kembali menggelar program pameran sebagai bagian dari rangkaian Road to ICAD 16. Pada progam kedua ini ICAD menghadirkan karya Kafin Noe’man, seorang fotografer arsitektur dan interior dan menjadi pameran tunggal perdananya. Dengan tajuk “Not Nothing, Not Enough”, pameran ini berlangsung di hotel grandkemang, Jakarta Selatan, mulai dari 9 Juli hingga 9 Agustus 2026.

Bagi pembaca MyHome, pameran ini menarik karena tidak hanya berbicara tentang fotografi atau estetika ruang, tapi juga mengangkat pertanyaan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: seperti apa rasanya membesarkan anak di kota yang menjadi rumah kita?

Kafin, yang tumbuh di keluarga desainer dan arsitek–cucu Achmad Noe’man, sang “arsitek seribu masjid”–selama ini dikenal lewat karya-karya fotografinya, khusus arsitektur dan interior yang tampil di berbagai publikasi internasional, seperti ArchDaily, Designboom, hingga Monocle. Namun dalam pameran ini, ia bergerak ke wilayah yang jauh lebih personal.

“Biasanya saya memotret karya arsitektur kota dan interior. Setelah menjadi ayah pada 2022, saya melihat rumah jadi berbeda. Muncul pertanyaan, seperti apa rasanya membesarkan anak di rumah yang kita tempati,” ujar Kafin, saat pembukaan pameran.

Pameran ini berangkat dari pengalaman sehari-hari yang akrab bagi warga Jakarta: kemacetan, halte bus, taman kota, jembatan penyeberangan, hingga ruang-ruang publik yang sering kali terasa serba terbatas. Alih-alih menampilkan sisi spektakuler kota, Kafin justru memilih potongan-potongan yang tampak biasa.

Menurutnya, kota adalah ruang negosiasi antara yang ideal dan yang tersedia. “Rumah yang saya tinggali berada di tengah. Ada banyak kekurangan, tapi ada banyak kepedulian, sekecil apa pun itu,” ungkapnya.

Kota sebagai Rumah 

ICAD, Road to ICAD 16

Dalam “Not Nothing, Not Enough”, potret Jakarta disandingkan dengan visual Al Shaqab, sebuah arena pacuan kuda di Qatar yang dibangun dengan perhatian luar biasa terhadap kebutuhan tubuh penggunanya. Kontras inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama pameran Kafin.

Bukan kemewahan Al Shaqab yang hendak dipamerkan, melainkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana sebuah ruang dirancang sebagai bentuk kepedulian.

Kafin menilai banyak ruang publik di kota besar dibangun berdasarkan asumsi tentang, “tubuh rata-rata”, sementara pengalaman orang tua yang membawa anak, lansia, atau kelompok tertentu sering kali terabaikan.

Melalui foto-fotonya, ia memperlihatkan bagaimana masyarakat terus beradaptasi: lahan kosong yang disulap menjadi lapangan sepak bola, ruang sempit yang menjadi tempat bermain anak, atau lingkungan berpagar yang dibangun secara swadaya demi menyediakan area aman bagi keluarga.

“Tidak nihil, tapi juga belum sepenuhnya memadai. Ada di antara keduanya,” tulis Kafin dalam pernyataan artistiknya.

Pesan tersebut sejalan dengan tema Being: Becoming yang diusung ICAD 16. Festival Director ICAD, Edwin Nazir, menyampaikan apresiasinya kepada Kafin karena mempercayakan pameran tunggal perdananya kepada ICAD.

“Semoga para tamu yang hadir dapat menikmati rangkaian acara Road to ICAD dan merasakan perjalanan menuju ICAD 16 secara bertahap,” katanya.

Sementara itu, Karina, perwakilan grandkemang, berharap karya-karya Kafin tidak hanya memperindah lobi hotel, tetapi juga menginspirasi setiap langkah dan kenangan yang tercipta di ruang tersebut.

Bagi dunia hunian dan desain interior, pameran ini menawarkan perspektif yang relevan. Rumah tidak lagi dilihat sekadar sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai ruang yang terus dinegosiasikan oleh penghuninya. Ketika rumah menua, ketika kota tidak ideal, manusia tetap berusaha menciptakan rasa aman, nyaman, dan layak bagi keluarga.

Di situlah letak kekuatan “Not Nothing, Not Enough”. Pameran ini tidak memberikan jawaban pasti tentang bagaimana kota seharusnya dibangun. Sebaliknya, ia mengajak pengunjung untuk melihat ulang ruang-ruang yang selama ini dianggap biasa dan bertanya: apakah kita masih punya harapan agar rumah dan kota tempat kita tinggal bisa menjadi lebih baik?

Pertanyaan itu terasa semakin penting di tengah pertumbuhan kota-kota besar Indonesia, ketika kualitas ruang publik, aksesibilitas, dan kenyamanan keluarga menjadi bagian tak terpisahkan dari pembahasan tentang hunian masa depan.

Melalui lensa sebagai seorang ayah, Kafin Noe’man menghadirkan Jakarta bukan sebagai kota yang sempurna, melainkan sebagai rumah yang terus diupayakan, oleh pemerintah, komunitas, dan terutama oleh warganya sendiri. Dan mungkin, seperti yang ia pelajari dari kedua putranya, harapan untuk kota yang lebih baik justru dimulai dari kemampuan untuk melihat apa yang sudah ada, lalu membayangkan apa yang masih mungkin menjadi.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *