Studi Smart Living Index Beko: Makin Kaya Makin Tidak Hemat Energi

Bagikan

studi

Beko, perusahaan produsen home appliances asal Turki, baru saja merilis hasil studi terbarunya bertajuk Smart Living Index (SLI). Laporan studi tersebut mengungkapkan bahwa tekanan finansial kini menjadi pendorong terbesar adopsi perilaku rumah tangga berkelanjutan di seluruh dunia.

Beko Smart Living Index (SLI) adalah yang pertama dari jenisnya — sebuah studi global komprehensif yang meneliti bagaimana konsumen memandang dan mengadopsi gaya hidup rumah tangga berkelanjutan dan teknologi peralatan pintar. Index ini ditujukan untuk memberikan wawasan dan dapat ditindaklanjuti bagi industri, pembuat kebijakan, juga media, bagaimana tekanan finansial, pergeseran generasi, dan perbedaan budaya membentuk perilaku rumah tangga di seluruh dunia. Terutama pandangannya terhadap hal keberlanjutan dan penggunaan energi yang terus berkembang.

Studi ini juga mengamati bagaimana konsumen menggunakan peralatan pintar di rumah mereka masing-masing. Untuk itu, studi ini menilai berbagai dimensi dari smart living, termasuk penggunaan peralatan rumah tangga, preferensi teknologi cerdas (smart tech), kesadaran pada konsumsi energi,  pertimbangan pada hal keberlanjutan, kepercayaan pada AI, dan harapan terhadap kebijakan pemerintah.

Studi ini dilakukan oleh JL Partners, sebuah lembaga penelitian dan wawasan independen, guna memastikan ketelitian metodologi dan responden. Survei ini dilakukan di 12 negara, pasar utama produk-produknya, yakni Inggris, Jerman, Prancis, Spanyol, Italia, Belanda, Romania, Turki, Mesir, Tailan, Pakistan dan Afrika Selatan, dengan sample sebanyak 6.000 konsumen Beko. Di setiap negara/pasar, responden didasarkan pada kuota demografis, yang mewakili usia, jenis kelamin, geografi, dan pendidikan, untuk memastikan setiap pasar dapat secara akurat mencerminkan pandangan penduduknya.

Temuan Studi

studi
 

Studi melaporkan bahwa konsumen di setiap pasar menyatakan ada perubahan dalam pendekatan mereka untuk membeli peralatan rumah tangga dalam 12 bulan terakhir. Mereka kini makin mempertimbangkan soal keterjangkauan dan keberlanjutan jangka panjang.

Di sejumlah pasar di mana konsumennya secara aktif melacak biaya operasional peralatan rumah tangga maka adopsi atas fitur pintar di perangkat yang diinginkan, lebih tinggi. Sebaliknya, di pasar-pasar yang tidak terlalu mengindahkan penggunaan energi dengan cermat,  lebih lambat dalam mengadopsi fitur pintar tersebut. Bahkan mereka beralih ke aktivitas atau hal lain yang dinilai lebih hemat energi, seperti menjemur pakaian di tali jemuran, atau mencuci piring dengan tangan.

Temuan lain yang didapat dari studi ini adalah:

  • Biaya sebagai katalis:8 dari 12 pasar menyebut biaya energi sebagai menyebutkan biaya energi sebagai perihal lingkungan yang berdampak paling besar pada kehidupan sehari-hari mereka, mencerminkan bagaimana tantangan iklim dan keberlanjutan paling dirasakan melalui tagihan listrik rumah tangga.
  • Negara-negara Selatan memimpin: Konsumen-konsumen di negara barat seperti Inggris, Jerman, dan Prancis, kurang menghargai smart living dibandingkan dengan pasar negara berkembang seperti Mesir, Tailan, dan Pakistan.
  • Kesenjangan kepercayaan pada teknologi: Kurang dari 20% konsumen di pasar-pasar utama Eropa (Prancis, Spanyol, Inggris, dan Jerman) mempercayai perangkat bertenaga AI, meskipun secara luas diakui bahwa perangkat pintar bermanfaat bagi lingkungan.
  • Beralih ke analog: Sebagian besar masyarakat melakukan penggantian perangkat rumah tangga untuk menghemat energi di rumah, misalnya, di banyak negara sekitar dua pertiga responden menyatakan bahwa mereka memilih mengeringkan cucian di tali jemuran (dibandingkan dengan mesin).
  • Paradoks usia vs pendapatan: Aktivitas hemat energi meningkat seiring bertambahnya usia, tetapi menurun seiring bertambahnya pendapatan, yang bertentangan dengan asumsi konvensional tentang keterlibatan lingkungan. Kelompok usia di atas 54 tahun memimpin dalam semua perilaku hemat energi.
  • Tuntut dukungan pemerintah: Lebih dari 50% responden dari semua pasar setuju bahwa kebijakan pemerintah harus mendukung konsumen dalam beralih ke peralatan rumah tangga yang lebih hemat listrik, daripada menyerahkan transisi tersebut sepenuhnya kepada individu.
  • Masa depan adalah cerdas: Konsumen di Tailan (81%), Pakistan (86%), dan Turki (80%) menunjukkan antusiasme terbesar terhadap perangkat rumah tangga yang semakin cerdas, sementara Jerman (39%), Inggris (40%), dan Prancis (43%) kurang memperhatikan soal inovasi. Namun, negara-negara tersebut sepakat paling antusias terhadap inovasi yang dapat membersihkan sendiri atau menghasilkan energi.

 

baca juga: REIWA Kenalkan 2 Produk Terbaru Untuk Bantu Rutinitas Rumah Lebih Praktis

Menanggapi sudah dilansirnya Smart Living Index, Hakan Bulgurlu, Chief Executive Officer Beko, mengatakan, “Smart Living Index menyoroti kebutuhan mendesak untuk menjembatani kesenjangan kepercayaan pada teknologi pintar dan manfaatnya untuk membuka potensi penuhnya bagi kehidupan yang lebih cerdas dan berkelanjutan di setiap rumah tangga. Temuan ini juga menunjukkan bagaimana perubahan kecil dan individual – ketika diadopsi dalam skala besar – dapat menciptakan dampak kolektif yang signifikan.”

Bugurlu menandaskan, “Di Beko, kami percaya bahwa konsumen harus memiliki akses ke pilihan (produk) yang dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan, terlepas dari tekanan finansial. Dengan memahami tren penghematan energi global dan persepsi tentang perangkat cerdas, kami semakin siap untuk memenuhi kebutuhan pelanggan kami dan mendukung pergeseran menuju kehidupan yang lebih berkelanjutan.”

Untuk diketahui, Beko sudah beroperasi (memasarkan produknya) di 55 negara di semua wilayah. Beko menaungi 22 jenama, baik milik sendiri maupun sebagai pemegang lisensi, seperti Arçelik, Beko, Whirlpool*, Grundig, Ariston*, Leisure, Defy, Singer*, ElektraBregenz, Altus, Ignis dan Polar. Dengan market share (berdasarkan volume) dan mencapai omzet konsolidasi sebesar 10,6 miliar Euro pada tahun 2024, perusahaan ini memegang lebih dari 4,500 paten internasional.

Beko juga mencapai nilai tertinggi pada S&P Global Corporate Sustainability Assessment (CSA) dalam industri DHP Household Durables, selama tujuh tahun berturut-turut. Perusahaan ini juga tercatat di peringkat 17 perusahaan paling peduli lingkungan dari TIME Magazine dan masuk daftar Statista’s 2025 World’s Most Sustainable Companies.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *