
Dengan pengolahan yang tepat, sampah bisa menjadi sumber energi. Hal ini sudah disadari pemerintah, hingga menerbitkan Peraturan Presiden RI No.35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi (Waste-to-Energy/WtE). Kemudian pada 26 Mei 2025, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia juga telah menerbitkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik yang baru berjangka 10 tahun (RUPTL 2025–2034).
Sayangnya sampai sekarfang, pengembangan proyek WtE tak kunjung terwujud. Untuk itu, pemerintah telah menugaskan Danantara, pengelola investasi negara, untuk mencari mitra investasi dan penyedia teknologi yang andal.
Rosan Perkasa Roeslani, CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Indonesia, menyatakan, pemerintah berencana meluncurkan pembangunan instalasi WtE di Jakarta, Bali, Surabaya, Semarang, dan Bandung pada 2025. Seperti disampaikan saat berkunjung ke Proyek WtE Jiaxing Jiayuan yang dikembangkan SUS Environment di Jiaxing, Tiongkok, pada 26 Agustus 2025 lalu.
Long Jisheng, Chairman SUS Environment memaparkan, SUS Environment memiliki teknologi insinerasi untuk mengolah sampah perkotaan menjadi bentuk padat. Perusahaan ini telah menyediakan dukungan teknis dan peralatan inti untuk 300 proyek WtE di seluruh dunia dan mengelola lebih dari 300.000 ton sampah setiap hari.
SUS Environment juga berinvestasi dan mengelola 90 kawasan industri rendah karbon dan ramah lingkungan, yang juga tercakup dalam proyek-proyek WtE. Termasuk fasilitas pengolahan lumpur limbah (sludge treatment), fasilitas pengolahan sampah makanan dan limbah konstruksi dengan kapasitas total lebih dari 120.000 ton per hari.
Tak hanya mengembangkan teknologi, SUS juga menunjukkan lingkungan di fasilitas yang dikembangkan dapat ditata menjadi taman hijau yang asri, sehingga menciptakan lingkungan tempat tinggal yang lebih bersih, dan ramah lingkungan.
Long juga memperkenalkan Wuxi Fangling sebagai basis produksi peralatan SUS Environment yang memproduksi alat insinerasi yang dapat dipindah-pindah, alat pengolahan limbah cair, alat pengolahan lumpur limbah, sistem pengolahan sisa gas buang (flue gas). Kapasitas produksi Wuxi Fangling merupakan yang terbesar di Asia.
Kelola Sampah di Makassar

Menurut Long, pihaknya telah mengembangkan pasar Indonesia selama bertahun-tahun. SUS Environment sudah memenangkan tender proyek WtE di Makassar, pada awal tahun 2024. Proyek WtE ini berkapasitas 1.300 ton per hari, dengan investasi mencapai AS $200 juta. Menurut target, proyek WtE ini akan menghasilkan 209 juta kWh listrik setiap tahun.
Pada September 2024, SUS telah meresmikan kontrak kerja sama dengan pemerintah kota Makassar, dan saat ini perusahaan tersebut tengah membahas negosiasi kontrak jual-beli listrik (PPA). SUS menargetkan dapat mulai menggarap pengembangan proyek tersebut pada tahun ini, sedangkan jadwal operasional (Commercial Operation Date/COD) berlangsung pada akhir 2027.
baca juga: Pemkot Cilegon Gandeng Green Eco Teknologi, Bantu Kelola Sampah Berteknologi Korea
Eric Zhan, CEO, SUS International, menambahkan, instalasi WtE Jiaxing tersebut menggunakan tiga lini insinerator mekanis berkapasitas 650 ton yang dirancang dan diproduksi secara mandiri. Eric bahkan menegaskan standar emisi dari insinerator yang dikembangkan SUS jauh lebih baik dari standar yang diterapkan regulasi EU 2010. Ditambah dengan kemampuannya memproduksi insinerator dengan kapasitas satu lini berkisar 75 hingga 1.200 ton, menurut Eric, teknologinya dinilai sangat ideal untuk pasar Indonesia.
Long menandaskan, lewat koordinasi efektif yang terjalin antara pemerintah pusat dan Danantara, krisis sampah di Indonesia dapat segera teratasi. Sebagai spesialis pengolahan sampah padat, SUS Environment selalu berkomitmen memenuhi janjinya di pasar Indonesia, mendukung Danantara, serta berkontribusi terhadap program pelestarian alam di Indonesia.












