Habitat for Humanity: 3 dari 4 Orang Harus Kurangi Pengeluaran Kebutuhan Pokok Demi Penuhi Biaya Tempat Tinggal

Bagikan

tempat tinggal

Biaya tempat tinggal yang semakin membebani memaksa jutaan orang di seluruh dunia mengambil keputusan sulit, dengan mengorbankan kebutuhan pangan, layanan kesehatan, keamanan finansial, hingga berbagai rencana penting untuk masa depan. Demikian hasil utama riset global yang dirilis oleh Habitat for Humanity International (6/10).

Bertajuk Home at What Cost?, laporan ini didasarkan pada survei yang mewakili populasi nasional terhadap 30.000 responden di 22 negara. Survei yang mewakili populasi nasional ini dilakukan pada 10 April hingga 30 Juni 2026 di negara-negara antara lain Argentina, Australia, Barbados, Brasil, Kanada, Mesir, Etiopia, dan Indonesia. Juga di Irlandia, Kenya, Meksiko, Nepal, Polandia, dan Korea Selatan.

Laporan ini didasarkan pada riset opini publik yang dilakukan secara khusus atas permintaan Habitat for Humanity International untuk memahami lebih jauh pengalaman masyarakat terkait tempat tinggal dalam kehidupan sehari-hari. Riset ini dirancang untuk melengkapi data perumahan yang telah tersedia dengan melihat lebih jauh dari sekadar indikator pada tingkat sistem dan menggali bagaimana tempat tinggal memengaruhi rasa aman, keterjangkauan, stabilitas, martabat, kesehatan, peluang, dan kehidupan bermasyarakat.

Temuan menunjukkan bahwa beban biaya tempat tinggal tidak hanya sebatas biaya sewa atau cicilan KPR, tetapi juga mencakup berbagai hal yang harus dikorbankan demi memiliki tempat yang dapat disebut sebagai rumah.

Tiga dari empat responden survei (75%) mengaku telah mengurangi setidaknya satu jenis pengeluaran dalam setahun terakhir, demi memenuhi biaya tempat tinggal. Tekanan terbesar dirasakan oleh kelompok yang sejak awal lebih rentan dalam hal tempat tinggal, termasuk mereka yang tinggal dengan pengaturan hunian informal (89%), kelompok berpenghasilan rendah (85%), serta generasi muda—Gen Z dan Milenial (81%).

Pengorbanan ini bahkan menyentuh kebutuhan pokok. Sepertiga responden (33%) mengurangi pengeluaran untuk makanan, 32% menggunakan tabungan atau dana darurat, dan 13% menunda atau tidak mencari perawatan medis demi memenuhi biaya tempat tinggal.

Meski telah melakukan berbagai pengorbanan tersebut, banyak rumah tangga masih berada dalam kondisi rentan. Hampir separuh responden di seluruh dunia (48%) mengatakan bahwa ada satu masalah tak terduga saja yang terjadi, dapat mengancam kemampuan mereka untuk tetap memiliki tempat tinggal.

Terpaksa Tinggal di Tempat Berisiko

tempat tinggal

Keterjangkauan biaya tempat tinggal juga membuat masyarakat harus berkompromi dalam hal keamanan. Sebanyak 40% responden mengaku terpaksa menerima tingkat risiko tertentu terkait tempat tinggal, karena pilihan yang lebih aman berada di luar jangkauan mereka.

Secara umum, masyarakat juga tidak yakin bahwa solusi akan segera hadir. Sebanyak 56% responden menilai sistem perumahan di negara mereka bermasalah atau tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Memiliki rumah seharusnya tidak membuat seseorang harus mengorbankan kesehatan atau masa depannya Rumah semestinya menjadi landasan untuk hidup sehat, membuka peluang, dan mencapai keamanan finansial. Namun, lebih dari separuh masyarakat menilai sistem perumahan di negara mereka bermasalah atau tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka,” ujar Jonathan Reckford, CEO Habitat for Humanity International.

Reckford juga menyatakan bahwa kita tidak boleh menerima masa depan ketika masyarakat harus menurunkan harapan terhadap apa yang semestinya mereka dapatkan dari sebuah rumah. “Riset ini menunjukkan pentingnya pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat bekerja sama untuk membangun sistem perumahan yang memungkinkan masyarakat menata masa depan, bukan sekadar bertahan hidup hari ini,” terangnya.

Gen Z dan Milenial Terdampak

Dampak biaya tempat tinggal tidak hanya dirasakan pada keuangan rumah tangga, tetapi juga memengaruhi kesejahteraan masyarakat saat ini dan masa depan yang ingin mereka bangun.

  • Lebih dari separuh responden (56%) mengatakan bahwa biaya tempat tinggal membuat mereka sulit mempertimbangkan untuk memulai sebuah keluarga. Angka ini meningkat menjadi 62% di kalangan Gen Z dan Milenial.
  • Hampir 6 dari 10 orang tua dan wali (58%) khawatir biaya tempat tinggal membatasi peluang bagi anak-anak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan biaya tempat tinggal membuat berbagai pencapaian penting dalam hidup harus tertunda dan semakin menyulitkan masyarakat untuk membangun keamanan jangka panjang.
  • Kekhawatiran akan kemampuan memiliki rumah di masa depan paling tinggi di negara-negara berpendapatan tinggi, terutama di Amerika Utara. Lebih dari separuh responden yang belum memiliki rumah di Kanada (56%) dan hampir separuh di AS (42%) mengatakan bahwa mereka tidak yakin akan dapat memiliki rumah sendiri suatu saat nanti.
  • Sementara itu, ketidakpuasan terhadap kondisi tempat tinggal paling tinggi ditemukan di negara-negara dengan pendapatan nasional bruto yang rendah, seperti Pantai Gading (66%) dan Etiopia (63%), dibandingkan dengan rata-rata global sebesar 35%.
  • Lebih dari 1 dari 3 responden (35%) mengatakan bahwa kondisi tempat tinggal menjadi salah satu sumber stres terbesar dalam hidup mereka. Angka ini meningkat menjadi 64% di kalangan responden yang tinggal dengan pengaturan hunian informal dan 39% di kalangan generasi muda (Gen Z dan Milenial).

 

Penyewa rumah hampir 1,5 kali lebih mungkin dibandingkan pemilik rumah untuk mengatakan bahwa kondisi tempat tinggal mereka dapat berdampak negatif terhadap kesehatan (28% dibandingkan 19%).

Sementara itu, hampir 9 dari 10 responden di seluruh dunia (89%) mengatakan bahwa tempat tinggal yang aman, nyaman, dan layak membantu menjaga kesehatan mental mereka. Temuan ini menegaskan bahwa tempat tinggal bukan sekadar persoalan finansial, tetapi juga semakin menentukan kesejahteraan, ketangguhan, serta kemampuan seseorang untuk menjaga diri sendiri dan keluarganya.

Keamanan tempat tinggal juga semakin terdampak oleh perubahan iklim. Hampir sepertiga responden (30%) memperkirakan cuaca ekstrem akan membuat tempat tinggal mereka semakin sulit dihuni dalam tiga tahun ke depan, sementara 18% mengatakan rumah mereka tidak mampu memberikan perlindungan dari cuaca ekstrem seperti panas, dingin, atau banjir.

baca juga: Atasi Backlog Rumah di Jawa Barat, BP Tapera dan Bank bjb Terus Dorong Pembiayaan Rumah Subsidi

Khusus di Indonesia, survei memberikan hasil bahwa responden yang harus mengurangi setidaknya satu jenis pengeluaran dalam setahun terakhir demi memenuhi biaya tempat tinggal, ada sebanyak 73%. Lalu ada 49% menyatakan bahwa satu masalah tak terduga dapat mengancam kemampuan mereka untuk mempertahankan tempat tinggal, dan 21% responden menyebutkan bahwa masalah tempat tinggal merupakan salah satu sumber stres terbesar dalam hidup mereka.

Untuk itu, Habitat for Humanity menegaskan bahwa pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, dan setiap individu memiliki peran dalam memastikan masyarakat dapat mengakses tempat tinggal yang membuka lebih banyak peluang, bukan justru membatasinya. Organisasi ini menyerukan kepada pemerintah untuk mengubah janji terkait perumahan menjadi langkah nyata melalui komitmen politik dan investasi.

Kepada dunia usaha diharapkan untuk memperluas dan menghadirkan inovasi dalam akses pembiayaan perumahan, sementara kepada organisasi dan mitra terkait untuk mengubah bukti menjadi tindakan dengan mendorong perubahan kebijakan, pembiayaan, dan akuntabilitas. Adapun kepada individu dan masyarakat diserukan untuk memanfaatkan suara, keterampilan, dan jaringan mereka guna mendorong terwujudnya solusi perumahan yang berkelanjutan.

 

 

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *