Gaya Art Deco yang Tak Pernah Kuno

Bagikan

Salah satu gaya arsitektur yang kerap dipakai hingga kini adalah art deco. Dengan karakternya yang khas, gaya ini terus disuka hingga kini, bahkan oleh generasi milenial.

Art deco merupakan gaya seni dan arsitektur yang muncul sekitar tahun 1920. Gaya ini berkembang menjadi gaya arsitektur yang popular terutama di Eropa bagian barat hingga Amerika 10 tahun setelahnya atau sekitar tahun 1930-an. Gaya ini mengaplikasikan banyak detil, seperti lengkung, tetapi tidak bukan detil ukir sebagai salah satu ciri gaya klasik. Pada gaya ini biasanya juga ditampilkan dengan warna mencolok, motif yang eksotif serta elemen dekorasi yang megah dan mewah.

Desain art deco yang muncul setelah Perang Dunia ke 1, biasanya memiliki proporsi yang lebih besar daripada gaya klasik dan sarat tarikan geometris. Gaya ini memiliki perkembangan yang memengaruhi berbagai bentukan arsitektur.

Walau hype di “masa perang”, tapi karakter gaya ini masih terasa upto date dengan masa sekarang. Bangunan-bangunan yang mengadopsi gaya ini tidak terlihat kuno, karena seakan “diperbarui” oleh sentuhn yang lebih modern, membuatnya jadi terlihat unik.

Art deco memiliki ciri-ciri khusus, yakni:

  • Struktur yang bertingkat

Gaya arsitektur biasanya menampilkan sisi bangunan yang mana di beberapa area terdapat semacam struktur yang berjenjang atau bertingkat. Kalau dilihat dari depan, gedung ini akan membentuk semacam tangga yang memberikan tingkatan dari rendah ke tinggi.

  • Bentuk atap datar

Jika dilihat dari sisi samping, bangunan bergaya art deco cenderung menggunakan model atap datar.  Ditambah ukuran bangunan yang besar maka akan memberikan hasil akhir tampilan yang megah.

  • Ramai oleh bentuk geometris dan ornamen

Fasade bangunan bergaya ini tampak sedikit ramai dengan detil, meskipun bukan detil yang rumit. Seperti penggunaan kaca di mana-mana, ada yang berwarna-warni, atau dibuat dalam bentuk geometris, hingga penggunaan pilar yang saling menyambung.

Mendapatkan inspirasi gaya arsitektur art deco ini biasanya bersumber dari karakteristik India Klasik, Mesir hingga Amerika. Namun terdapat juga beberapa pengaruh seni dan beberapa unsur lainnya, seperti :

  • Art nouveau, filosofi gaya seni dekoratif
  • Kubisme (cubism), Seni avant grande yang dirintis oleh seniman dunia, Pablo Picasso, dikenal pada abad ke 20
  • Sekolah Bauhaus, merupakan sekolah seni yang didirikan oleh Walter Grophius, yang berlokasi di Jerman
  • Serge Diaghilev’s Ballets Russes, pendiri Ballet Russes, dari Rusia.

Karakter gaya art deco pada interior, yakni:

  • Kombinasi beberapa warna

Sisi indah dari interior gaya ini adalah dapat menggunakan kombinasi beberapa warna, bahkan dalam satu ruang. Tentu menarik memiliki ruangan dengan “joyful vibes”, tetapi dalam takaran yang elegan. Aplikasinya bisa pada furnitur, maupun dinding.

  • Elegan

Hal ini bisa ditampilkan pada pilihan furnitur hingga elemen dekoratif dan aksesori, menjadi satu hal yang menarik dan menjadi hunian yang nyaman. Sesuai tujuan dari art deco, menampikan sisi kekayaan dari nilai seni arsitektur, tidak jarang digunakan juga ornamen berwarna emas, misal pada sisi samping furnitur atau pada elemen interior lain.

Beberapa bangunan bergaya art deco terkenal di negeri ini bahkan jadi salah satu tengara kota, antara lain:

Hotel Savoy Homann, Bandung

Hotel bintang empat yang terletak di jalan Asia Afrika, ini dirancang dengan desain fasade serupa gelombang samudera. Didesain oleh Albert Aalbers pada tahun 1939, hotel ini pernah digunakan sebagai akomodasi pada Konferensi Asia Afrika pertama. Desainnya yang unik dan berada dekat dengan Alun-Alun kota, membuatnya menjadi tengara dari perkembangan desain arsitektur di Bumi Pasundan.

Villa Isola

Desainnya yang unik, menjadi tengara kawasan Setiabudi, pada perjalanan Bandung-Lembang atau sebaliknya. Dengan bentuk melengkung yang disusun simetris dalam beberapa tingkat, Villa Isola dibangun pada tahun 1933 oleh hartawan Belanda, yaitu Dominique Willem Berretty. Sesuai namanya bangunan ini adalah sebagai tempat peristirahatan di daerah perbukitan, dan kini menjadi Kantor Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia.

Stasiun Solo Jebres

Stasiun Solo Jebres merupakan stasiun kereta api kelas I yang terletak di Purwodiningratan, Surakarta. Bangunan stasiun ini memiliki keunikan yang berbeda dengan stasiun lainnya. Tampilan depan stasiun yang mewah ini bergaya Indische Empire, dengan detail yang dipengaruhi oleh gaya neo-klasik.

Artikel Terkait

Leave a Comment