Demi Cuan Lebih, Developer Kolaborasi dengan Arsitek Ternama

Bagikan

Berkolaborasi sudah jadi idiom yang sering dipakai para pebisnis saat ini. Berarti kerja sama, hal ini pun dilakukan oleh pengembang dan desainer (arsitek, desainer interior dan lansekap), karena bisnis keduanya memang sangat bertautan.

Pada umumnya, di perusahaan pengembang terdapat arsitek internal yang “bertanggung jawab” dalam urusan rancang dan desain produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Bahkan ada perusahaan pengembang didirikan oleh arsitek, seperti PT Graha Nuansa Asri (GNA Group) yang berawal dari perusahaan konsultan arsitek Gunho Niken Architect (GNA), sebagai pendirinya. Atau ada juga sebaliknya, Delution yang setelah sukses sebagai biro arsitek mengembangkan diri sebagai developer, dengan mendirikan Delution Land.

Selain internal, banyak juga pengembang yang menggandeng arsitek, umumnya yang sudah ternama dan punya karakteristik yang khas. Untuk sekadar menyebut Sinar Mas Land untuk proyek BSD City dengan menggandeng arsitek Denny Gondo (Studio Air Putih). Biro arsitektur ini juga kerap diajak berkolaborasi dengan Intiland Development (Graha Natura), Group Ciputra dan Summarecon Agung (Summarecon Bogor). Arsitek-arsitek lain yang juga acapkali digandeng pengembang, untuk sekadar menyebut, Budi Harmunanto, Riri Yakub (Atelier Riri), Andra Matin, Hadi Vicent dan Alex Bayu.

Naikkan Nilai

Ada sejumlah alasan kolaborasi ini terbentuk. “Kami bekerjasama dengan Andra Matin sebagai arsitek dan master planner, sehingga Sva Casa Sawangan akan memberikan warna berbeda dalam melihat dan menikmati hunian yang nyaman serta asri,” ujar Grace Ekarto, Managing Director Sva Casa Sawangan Grace Ekarto, saat peluncuran perumahan baru seluas delapan hektare ini.

Alasan senada juga diucapkan Julius Warouw, Sales Director Farpoint Realty Indonesia, pengembang apartemen Verde Two, “Kami terus menghadirkan inovasi dan pengalaman terbaik bagi konsumen agar dapat memberi apartemen fully furnished dengan konsep dan karakter unik, menggunakan material berkualitas tinggi, serta dilengkapi dengan fasilitas terbaik.”

Verde Two memang tidak didesain oleh biro arsitek lokal, melainkan konsultan arsitektur asal Los Angeles, Amerika Serikat, Johnson Fain. Namun untuk mengisi interiornya, Farpoint Realty menggandeng desainer-desainer interior lokal, seperti Moie Living dan Vivianne Faye.

baca juga: 4 Warna Trendi di Tahun 2024

Hal serupa juga dinyatakan pihak The Residences at The St. Regis Jakarta yang dikembangkan oleh Rajawali Property Group. “Selain hunian yang luas dan dirancang dengan apik, The Residences at The St. Regis Jakarta menawarkan kepercayaan dan prestise dari brand terkemuka St. Regis. Sebagai peluang investasi, juga tentunya memberi nilai tambah dan eksklusivitas. Hal itu karena berkomitmen untuk menciptakan pelayanan dan buying experience yang baik kepada para pembelinya, juga meningkatkan standar ‘luxury living’ penghuninya,” papar Swanny Hendrarta, Chief Commercial Officer Rajawali Property Group.

Menurut CEO Group the Delution Company Muhammad Egha, dulu pihak developer menjual rumah karena ingin menyerap pasar orang yang membutuhkan rumah. Kalau sekarang, Egha melanjutkan, dengan hadirnya media sosial, pasar atau konsumen memiliki lebih banyak referensi tentang rumah. “Developer mau tidak mau harus melibatkan arsitek yang bagus. Karena hal tersebut akan menambah nilai mereka,” ujar Egha.

Novriansyah Yakub, nama panjang Riri Yakub, tidak menampik jika digandengnya arsitek (di luar perusahaan), ditujukan untuk memberi nilai lebih padar produk “jualan” para developer. Sebab, pada dasarnya, “Dalam merancang tidak hanya mempertimbangkan value of design, tapi juga ada pertimbangan dari sisi ekonomi, dan ada nilai tambahnya atau tidak bagi produk tersebut,” terang Riri.

Apalagi sebagai produk massal, desain tersebut harus bisa dijual, jadi arsitek juga tidak bisa egois. Bahkan lebih dari kesesuaian dengan kaidah atau prinsip arsitektur, produk tersebut juga mestinya harus adaptif terhadap lingkungan, sosial ekonomi penggunanya (calon pembelinya), dan bisa atau tidak dibangun. “Di situlah arsitek juga memberi saran tentang desain yang sesuai, termasuk pilihan material bahkan warna,” ujarnya.

baca juga: Terapkan Produk Ramah Lingkungan, Niro Granite Kantongi Sertifikat Green Label Indonesia

Adanya nilai tambah yang didapat dari produk hunian (atau komersial) itu, diharapkan dapat menarik pembeli/penyewa yang akhirnya memberikan cuan lebih bagi pengembang yang bersangkutan. Seperti diakui oleh pihak The Residences at The St. Regis, “Para pembeli merespon baik atas unit-unit yang hadir dengan konsep interior yang bisa dipesan sesuai dengan selera dan kebutuhan para pembeli,” tutur Swanny.

Siapa saja arsitek yang biasa digandeng developer? Apa saja proyek perumahan yang didesain oleh arsitek ternama? Selengkapnya ada di majalah MyHome edisi #70, yang bisa didapat di  https://grahajurnalis.id/product/majalah-myhome-edisi-70/

Artikel Terkait

Leave a Comment