BUMN Karya Kolaborasi Bangun Huntara di Aceh Tamiang

Bagikan

huntara

Dalam rangka mendukung pemulihan pascabencana banjir dan longsor di Sumatera, sejumlah BUMN Karya membangun Hunian Sementara (Huntara) bagi warga terdampak di Provinsi Aceh. Keterlibatan ini merupakan bagian dari program Danantara, BP BUMN, dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana. Pembangunan Huntara ditujukan untuk memastikan warga terdampak memiliki tempat tinggal sementara yang aman dan layak selama masa pemulihan.

Dalam program ini, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) bersama PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) membangun 80 unit Huntara. Sementara PT Hutama Karya (Persero) menargetkan sebanyak 196 unit, dan PT Nindya Karya memastikan pembangunan sebanyak 204 unit.

Huntara ini dibangun di lokasi terdampak yakni Kabupaten Aceh Tamiang, tepatnya daerah Kebun Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru. Huntara ini berukuran sebesar 4,5 x 4,5 m2 per unit, yang disusun memanjang.

Pengembangannya menerapkan sistem bangunan modular. Metode ini dipilih untuk mendukung percepatan pembangunan yang tetap mengedepankan kualitas, efisiensi, dan ketepatan waktu. Huntara ini dirancang menggunakan rangka baja ringan, dengan material pendukung seperti papan semen, multiplek lantai, serta atap zincalume, guna memastikan keamanan dan kenyamanan penghuni.

Pekerjaan secara keroyokan ini mencakup pekerjaan fondasi, rangka atap, rangka dinding, lantai panggung, serta pintu dan jendela, dengan pola kerja 24 jam dengan pola shifting dan pengawasan mutu yang diperketat.

“Melalui kolaborasi WIKA dan WEGE, kami menghadirkan Huntara modular yang dibangun secara cepat, aman, dan kuat, sehingga dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat terdampak sebagai tempat tinggal yang nyaman dan layak,” ujar Agung Budi Waskito (BW), Direktur Utama WIKA.

Selain unit hunian, di area huntara ini juga disiapkan berbagai fasilitas pendukung, antara lain dapur umum, area cuci, mushola, serta sarana sanitasi yang memadai, untuk memenuhi kebutuhan dasar warga. Dukungan utilitas seperti instalasi listrik dan air juga menjadi bagian dari penyiapan hunian agar segera fungsional.​

baca juga: WEGE dan DEX Kenalkan Netro, Sistem Hunian Modular Cerdas Pertama di Indonesia

Bangun Infrastruktur

Di sekitar area Huntara, Hutama Karya juga turut menjadi bagian dari pemulihan infrastruktur dan rehabilitas kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Antara lain mengerahkan excavator capit untuk pembersihan tumpukan kayu glondongan area di Pesantren Darul Muklisin, Tanjung Karang, Aceh Tamiang, pemulihan fasilitas air bersih melalui pekerjaan Operasi IPA Rantau yang juga berlokasi di Aceh Tamiang dengan kapasitas pengaliran air sebesar 40L per detik yang saat ini telah difungsikan normal kembali untuk pertama kalinya.

Selain pekerjaan Huntara, Hutama Karya tetap mengarahkan dukungan pemulihan akses dan konektivitas pada titik terdampak untuk membantu mobilitas warga dan distribusi logistik. Dukungan mencakup pengerahan alat berat untuk pembersihan material pascabanjir serta rehabilitasi Jembatan Lawe Mengkudu dengan bentang 36 m, dan Jambatan Penanggalan dengan bentang 48 m di Kabupaten Kutacane, Aceh Tenggara, yang keduanya telah tersambung guna memulihkan konektivitas berjalan kembali. Operasional dilaksanakan dengan prinsip keselamatan kerja dan koordinasi dengan otoritas setempat agar penanganan tepat sasaran.​

Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, menegaskan fokus Hutama Karya saat ini adalah melakukan perbaikan infrastruktur dan berkolaborasi dengan BUMN lain, sesuai arahan Danantara dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk dapat menunjukkan dampak nyata dengan cepat bagi masyarakat. “Kami memastikan koordinasi lapangan berjalan lancar agar hunian berkualitas, segera siap digunakan warga.” tuturnya.

Huntara Segera Dihuni

huntara

Dinyatakan segera, karena direncanakan huntara ini dan fasilitasnya difungsionalkan pada Kamis hari pertama tahun 2026 mendatang. Sesuai dengan rencana kunjungan Presiden RI, Prabowo Subianto yang dijadwalkan akan kembali hadir pada hari tersebut di Aceh Tamiang.

Direktur Utama PT Nindya Karya Firmansyah mengatakan proyek ini merupakan hasil kerja bakti tujuh BUMN Karya yang mendapat penugasan langsung dari pemerintah. “Kami mendapat perintah membangun huntara ini dengan waktu sangat terbatas, hanya tujuh hari. Meski sempat terkendala hujan dan mundur dua hari, progres tetap berjalan baik,” katanya.

Firmansyah mengungkapkan bahwa pihaknya siap membangun huntara hingga sebanyak 600 unit. Huntara tersebut disiapkan untuk memindahkan warga dari tenda-tenda pengungsian agar segera menempati hunian yang lebih layak. Karena itu, selain fasilitas bersama seperti yang disebut di atas, area huntara juga akan menata lansekap dan menyiapkan playground. “Ini penting untuk membantu pemulihan mental anak-anak pascabencana,” kata Firmansyah.

Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya, menyampaikan bahwa percepatan penyediaan Huntara dan Hunian tetap (Huntap) untuk korban bencana di Aceh dan wilayah Sumatera menjadi perhatian lintas kementerian dan lembaga. Teddy menyebut target pembangunan 15.000 unit hunian dalam tiga bulan, seiring inisiatif penanganan dari BNPB dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), merujuk unggahan akun Instagram resmi @sekretariat.kabinet.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *