ICAD Island Bali Hadirkan Seni dan Desain Berkelanjutan, Ruang Kreatif Baru Jelang ICAD 16

Bagikan

ICAD Island Bali, Road to ICAD 16

Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) memperluas jangkauan penyelenggaraan pamerannya melalui ICAD Island Bali, sebuah program yang menjadi bagian dari rangkaian Road to Icad 16. Berlangsung di Sira Village by Grand Outlet, Kura Kura Bali, mulai 31 Juli hingga 30 September 2026, program ini menghadirkan lebih dari 35 partisipan lintas disiplin yang mengangkat praktik seni dan desain berkelanjutan.

Untuk pertama kalinya, ICAD membawa salah satu program utamanya ke Bali. Pemilihan Pulau Dewata bukan tanpa alasan. Sebagai destinasi yang identik dengan kekayaan budaya, kreativitas, serta aktivitas gaya hidup, Bali dinilai menjadi ruang yang tepat untuk mempertemukan seni kontemporer, desain, dan isu keberlanjutan dalam satu pengalaman yang lebih dekat dengan masyarakat.

Mengusung tema besar “Being: Becoming”, ICAD Island mendorong para seniman, desainer, pelaku UMKM kreatif, hingga mitra industri untuk mengeksplorasi karya melalui pendekatan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Prinsip re-create rather than exploitation menjadi fondasi utama dalam proses berkarya, mulai dari pemilihan material, pemanfaatan kearifan lokal, hingga pengembangan desain yang berorientasi pada keberlanjutan.

Founder & Artistic Director ICAD, Diana Nazir, mengatakan bahwa konsep pulau yang diangkat dalam ICAD Island bukan hanya merujuk pada lokasi penyelenggaraan, melainkan sebagai simbol ruang bertemunya berbagai ide kreatif.

“Untuk kami, pulau bukan sekadar sebuah tempat, melainkan ruang bertemunya beragam gagasan. Ketika berbagai praktik kreatif saling bertemu, keberlanjutan menjadi sesuatu yang dijalankan dalam proses berkarya, bukan hanya tema yang dibicarakan,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu langkah ICAD dalam memperluas cara masyarakat menikmati karya seni. Jika sebelumnya seni kontemporer identik dengan galeri atau ruang pamer konvensional, kali ini karya-karya hadir di tengah kawasan gaya hidup sehingga lebih mudah diakses oleh publik maupun wisatawan.

Selain menjadi ruang apresiasi seni, penyelenggaraan ICAD Island juga memperlihatkan semakin kuatnya hubungan antara industri kreatif dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan tren global yang semakin menempatkan aspek lingkungan sebagai bagian penting dalam proses desain maupun produksi karya.

ICAD Island Bali Pertemukan 3 Partisipan

ICAD Island menghadirkan 3 kategori partisipan, yakni designer and artist, artisan SME, serta industry partner. Berbagai nama dari dunia seni dan desain turut ambil bagian, mulai dari Agus Medina, Ali Charisma, Bagus Prabowo, FUGUKU, HEARTHLAB Bali, Studio Estéh, Tisa Granicia, hingga Yusi Yuansa.

Sementara pada kategori Artisan SME, puluhan pelaku industri kreatif menampilkan beragam karya yang memadukan nilai estetika, fungsi, serta keberlanjutan. Di antaranya Artolouis, BIGBOYLOOKSGOOD, Craftote, Gelap Ruang Jiwa, INOUWA, JANÉDAN, Kunang Jewelry, La Vida HOME Indonesia, Maharani Craft, PALA Nusantara, Purana Home, PURAGRAPH, Seken Living, SLAB, Written Merchandise, hingga ZENJIWA.

Dua mitra industri, yakni ALUVEEN dan MANAWA, juga menjadi bagian dari kolaborasi yang memperkuat sinergi antara dunia kreatif dan sektor industri.

Salah satu partisipan, FUGUKU, memanfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan inovasi kerajinan berbasis teknik Jumputan yang diolah menjadi instalasi seni kontemporer. Founder & Chief Creative and Product Development FUGUKU, Savirra Lavinia, mengatakan keikutsertaan mereka merupakan bentuk eksplorasi terhadap modernisasi budaya melalui desain yang berkelanjutan.

ICAD Island

“Bagi FUGUKU, partisipasi di ICAD Island adalah selebrasi inovasi kerajinan berbasis teknik Jumputan menjadi instalasi seni kontemporer yang berkesadaran. Kami berharap ini memantik inspirasi di titik temu seni, modernisasi budaya, dan desain berkelanjutan,” katanya.

Festival Director ICAD, Edwin Nazir, menambahkan bahwa penyelenggaraan ICAD Island menjadi bagian dari strategi ICAD untuk memperluas jangkauan publik sekaligus membangun kolaborasi yang lebih luas sebelum penyelenggaraan pameran utama.

“Melalui ICAD Island, kami ingin membuka lebih banyak ruang bagi masyarakat untuk menikmati seni dan desain dalam konteks yang berbeda. Road to ICAD menjadi cara kami meningkatkan kolaborasi, memperluas pasar, sekaligus mempertemukan karya dengan publik sebelum penyelenggaraan ICAD 16,” kata Edwin.

Sebelum hadir di Bali, Road to ICAD telah lebih dulu menyelenggarakan 2 rangkaian program di Jakarta. Seluruh rangkaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan menuju penyelenggaraan ICAD 16  yang dijadwalkan berlangsung pada 8 Oktober – 8 November di grandkemang Jakarta.

Melalui ICAD Island Bali, pennyelenggara tidak hanya menghadirkan pameran seni, tetapi juga menawarkan pengalaman baru yang memperlihatkan bagaimana seni, desain, budaya, dan keberlanjutan dapat hadir secara berdampingan dalam ruang publik. Pendekatan ini sekaligus mempertegas posisi ICAD sebagai salah satu platform seni kontemporer yang terus mendorong kolaborasi lintas sektor serta memperluas akses masyarakat terhadap karya kreatif Indonesia.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *