
Setelah mendapat sambutan positif terhadap peluncuran awal program bank sampah (khususnya plastik) komunitas, BASAKI (Bank Sampah Binaan SKI), PT Sirkular Karya Indonesia (SKI) kembali mengambil langkah dalam memperluas pengelolaan sampah plastik melalui inisiatif TONGKI (Tong Sampah Kita Bersama). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat serta mendorong praktik pemilahan limbah plastik yang tepat, khususnya di lingkungan institusi pendidikan dan perkantoran.
PT Sirkular Karya Indonesia (SKI) adalah anak perusahaan PT Impack Pratama Industri Tbk yang didirikan dengan visi menjadi solusi terintegrasi dalam mengembangkan sistem pengumpulan sampah yang terstruktur, memajukan teknologi ekonomi sirkular, serta mendorong inovasi produk berkelanjutan.
TONGKI saat ini telah hadir di BINUS University @Bekasi dan Altira Business Park, Sunter – Jakarta Utara, menjangkau kalangan mahasiswa, tenaga pengajar, hingga profesional perkantoran. Kehadiran TONGKI di area dengan mobilitas tinggi memungkinkan SKI memperluas pengaruhnya dalam mendorong budaya sirkular di tengah masyarakat, sekaligus memperoleh rantai pasok sampah plastik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk produksi. Setiap unit dilengkapi dengan label yang jelas dan informatif, sehingga masyarakat dapat memahami dan mengikuti sistem pemilahan dengan lebih mudah.
Berbeda dengan BASAKI yang lebih menekankan pada pemberdayaan masyarakat dan memberikan insentif ekonomi bagi komunitas yang mengumpulkan dan memilah limbah plastik, TONGKI fokus pada edukasi dan perubahan perilaku melalui penempatan tong sampah pemilah secara strategis, tanpa imbalan finansial. Melalui pendekatan ini, TONGKI mendorong terciptanya kebiasaan pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, tidak hanya di lingkungan pendidikan atau perkantoran, tetapi juga hingga ke rumah tangga. Bahkan, komunitas diajak untuk mengumpulkan dan membawa sampah plastik dari rumah mereka dan memasukkannya ke dalam TONGKI.
baca juga: Impack Konsisten Kembangkan Produk Ramah Lingkungan
Program Edukasi
Untuk diketahui, BASAKI diluncurkan sebagai proyek percontohan SKI pada bulan Desember 2024. Program BASAKI telah berhasil diimplementasikan di berbagai komunitas, salah satunya di Yayasan Wihdatul Muslimat di Jatinegara, Jakarta Timur. Sejak diluncurkan hingga Mei 2025, program ini telah melibatkan lebih dari 250 ibu rumah tangga, banyak yang sebelumnya tidak menyadari pentingnya pemilahan sampah dan potensi ekonominya.
Lebih dari 150 kg sampah plastik telah berhasil dikumpulkan dalam dua siklus pengumpulan terakhir. Sampah yang dikumpulkan mencakup botol PET, kantong plastik PE, serta kemasan multilayer dan monolayer. Meskipun jumlah ini terlihat kecil di awal, hasil dari program percontohan menunjukkan bahwa arah yang diambil sudah tepat. Ini mencerminkan adanya perubahan perilaku yang menjanjikan ketika masyarakat diberi peluang yang tepat, arahan yang jelas, dan sistem yang praktis untuk dijalankan.
Yang membedakan BASAKI dari program sejenis adalah penekanan kuat pada aspek edukasi yang dikombinasikan dengan proses daur ulang yang terintegrasi. Sampah plastik yang dikumpulkan langsung diproses di fasilitas SKI di Karawang dan diubah menjadi bahan bangunan bernilai tinggi, seperti botol PET menjadi atap Ecolite, kantong plastik PE dijadikan material komposit untuk lapisan inti aluminum composite panel (ACP), dan plastik saset (residu) diubah menjadi bahan bangunan ramah lingkungan dari bahan daur ulang. Sistem sirkular ini tidak hanya menciptakan nilai baru dari bahan yang sebelumnya dibuang, tetapi juga memainkan peran penting dalam mengurangi pencemaran lingkungan serta mencegah masuknya sampah plastik ke sungai dan laut.
Diluncurkannya dua program tersebut bertujuan untuk mengatasi tantangan pengelolaan plastik multilayer dan monolayer yang kompleks, mengurangi kebocoran sampah ke lingkungan, serta menjadi mata rantai penting yang melengkapi ekosistem sirkular.
BASAKI dan TONGKI memainkan peran yang saling melengkapi dalam strategi SKI untuk membangun rantai pasok sampah plastiknya. BASAKI memperkuat dari sisi keterlibatan komunitas dan pemberdayaan ekonomi, sedangkan TONGKI menyediakan sarana edukatif yang dapat membentuk kebiasaan baru di masyarakat. TONGKI diharapkan dapat memperkuat dan memperluas dampak ini dengan rencana ekspansi ke lebih banyak kampus, sekolah, kawasan perkantoran, dan area urban lainnya.












