
Forum arsitektur terbesar di Indonesia, ARCH:ID 2026 akan kembali hadir dengan puncak acara pada April 2026. Rangkaiannya dimulai dengan gelaran International Conference dan Road to ARCH:ID, di Jakarta, (17/12) lalu, dengan mengusung tema “Skema Sintesa: Arsitektur Keterlibatan”.
Sebagai ruang kolaborasi antara arsitek, industri, dan publik, gelaran tersebut lebih dari sekadar pembukaan agenda tahunan. ARCH:ID kembali menegaskan posisinya sebagai ruang temu gagasan, wadah di mana arsitektur tidak hanya dipahami sebagai soal bentuk dan estetika, tetapi juga sebagai medium dialog antara ruang, manusia, teknologi, dan budaya.
Di tengah dinamika kota yang semakin kompleks, pendekatan kolaboratif yang diusung ARCH:ID terasa semakin relevan. Arsitektur hari ini tidak bisa lagi berdiri sendiri, melainkan terus hadir sebagai bagian dari ekosistem yang melibatkan banyak pihak dan banyak kepentingan.
Gagasan tersebut tercermin dalam format International Conference yang digelar selama dua hari, membahas isu perkotaan dalam perspektif lintas disiplin pada hari pertama, dan peran arsitektur dalam skala manusia serta kehidupan sehari-hari pada hari kedua.
Perwakilan Tim Konferensi, Ar. Prima Abdullah, IAI, menegaskan bahwa konferensi ini sengaja dirancang melampaui batas disiplin. “Dalam konferensi ini, kami tidak hanya terpaku dalam pembahasan isu urban atau arsitektur semata. Kami juga mengundang para pembicara dari luar bidang kami, yang perspektifnya akan memberikan insight berharga untuk didengarkan,” ujarnya.
baca juga: Hari Arsitektur Dunia 2025 Angkat Tema “Desain adalah Kekuatan”

Selain konferensi, gelaran ini juga akan bergerak ke berbagai kota melalui rangkaian Road to ARCH:ID, mulai dari Bali, Surabaya, Makassar, Bandung, hingga kembali ke Jakarta, sebagai upaya membawa wacana arsitektur lebih dekat ke konteks lokal.
Arief Sofyan Rudiantoro, Project Director CIS Exhibition, mengatakan, “Melalui rangkaian ini kami akan mengundang arsitek dari setiap kota untuk membagikan interpretasi mereka terhadap tema Skema Sintesa. Roadshow ke berbagai kota ini juga membuka peluang bagi brand untuk berkolaborasi langsung dengan arsitek lokal di masing-masing kota.”
Langkah ini juga mencerminkan upaya forum iniuntuk keluar dari pusat dan membuka ruang bagi keragaman praktik arsitektur di Indonesia, sekaligus mendengar lebih banyak cerita tentang tantangan dan potensi tiap daerah. Dalam beberapa tahun terakhir, ARCH:ID semakin mengukuhkan diri bukan sekadar sebagai pameran, melainkan sebagai platform terkurasi yang mempertemukan dunia desain, industri, dan pengembangan properti dalam satu ekosistem dialog.
Gelaran ini kembali mengingatkan bahwa arsitektur, pada akhirnya adalah tentang keterlibatan, dengan manusia, konteks, dan masa depan kota yang sedang dibentuk bersama.












