
Satu lagi proptech penyedia hunian ala co-living hadir di Indonesia. Kali ini LiveIn, penyedia hunian fleksibel terkemuka di Asia Tenggara, yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia. Sudah beroperasi sejak tahun lalu, LiveIn memperkenalkan model inovatif Offline-to-Online (O2O), yang menyediakan solusi hunian modern dan terjangkau bagi anak muda, sekaligus memudahkan pemilik properti mengembangkan pendapatan rental tanpa harus repot mengurus operasional bisnis.
Menurut laporan BestBrokers.com, Indonesia menempati posisi ke-4 sebagai negara paling tidak terjangkau untuk membeli rumah. Hal ini sejalan dengan studi Jakpat, yang menunjukkan bahwa 3 dari 5 Gen Z di Indonesia lebih memilih menyewa, karena alasan kesiapan finansial (36%), biaya lebih terjangkau (22%), lokasi strategis (18%), dan adanya aturan mutasi kerja (11%). Tren ini menyoroti pentingnya opsi hunian fleksibel dan terjangkau bagi generasi muda.
Keek Wen Khai, Co-founder & CEO LiveIn, menyampaikan pada rilisnya, (5/2), “Tantangan keterjangkauan hunian semakin membuat banyak anak muda harus mengorbankan kualitas. Kehadiran LiveIn di Indonesia adalah bagian dari misi kami untuk mengubah cara anak muda menjalani kehidupan dan memberdayakan mereka untuk berani bermimpi besar. Kami ingin menunjukkan bahwa hunian terjangkau tidak harus mengorbankan kualitas. Dengan model O2O, mereka bisa menemukan hunian modern yang terjangkau secara online, menikmati pengalaman tinggal yang nyaman, dan mengurus segala kebutuhan sewa-menyewa melalui platform online kami.”
Didirikan pada tahun 2015 sebagai marketplace akomodasi untuk pelajar perantauan, LiveIn kini berkembang menjadi perusahaan proptech dengan model B2B2C. Khai menyebut, proptech ini telah memiliki lebih dari 10.000 kamar di Malaysia, Thailand, Vietnam, termasuk Indonesia, dengan tingkat okupansi rata- rata 90%. Menggunakan sistem bermitra dengan pemilik properti, proptech ini bersama mengubah properti yang dikerjasamakan menjadi unit siap huni yang lengkap dengan furnitur. Tidak hanya itu, LiveIn pun menyediakan layanan analisis pasar, renovasi, pemasaran, dan manajemen sewa.
Tiga Tipe LiveIn
Ida Bagus, pemilik properti di Tangerang Selatan, berbagi pengalamannya. “Bermitra dengan LiveIn sangat membantu menjaga kepuasan penghuni, yang selalu jadi prioritas utama dalam bisnis kos-kosan. Ada tiga gedung dengan total 125 kamar yang saya miliki, semuanya telah diubah menjadi hunian nyaman sesuai gaya hidup penghuni, yakni Beton Bintaro, Terakota Bintaro, dan BTX Bintaro. Saya puas karena berhasil mencapai tingkat okupansi tinggi sekaligus pendapatan yang stabil.”

Didukung oleh investor terkemuka seperti Wavemaker Partners, InterVest, Malaysia Debt Ventures Berhad, dan Korean Investment Partners, LiveIn mengembangkan tiga kategori produk guna memenuhi kebutuhan beragam kalangan. Untuk pelajar dan profesional muda, “Intro” menawarkan hunian terjangkau dengan desain minimalis yang dinamis. Bagi mereka yang ingin hunian lebih aspiratif, “Select” hadir dengan desain elegan. Sementara itu, “Signature” menyediakan hunian premium dan modis yang ideal bagi profesional dan wisatawan bisnis.
baca juga: Biaya Sewa Rumah Sumbang Inflasi Inti Januari 2025
Selain tempat tinggal, penyedia fasilitas co-living ini menciptakan pengalaman holistik yang memungkinkan penghuni untuk tinggal, bekerja, bermain, dan berbelanja melalui LiveIn Ecosystem. Fasilitas yang tersedia meliputi laundry, minimarket, F&B, coworking space, tempat gym, dan hiburan. Di Indonesia, ekosistem ini masih dalam pengembangan dan bagian dari rencana ke depan platform ini. Penghuni juga bisa mengelola semua kebutuhan melalui aplikasi khususnya, mulai dari mencari hunian, pesan fasilitas, daftar acara komunitas, hingga mengelola berbagai aspek sewa.
Saat ini, LiveIn Indonesia beroperasi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Bandung. Beberapa properti sedang dalam tahap renovasi dan akan segera tersedia untuk dihuni. Rencana memperluas jangkauan ke kota-kota besar lainnya juga telah dipersiapkan.












