Karya RAD+a di Pusat Bisnis Jakarta Raih Building of the Year 2026 Awards versi ArchDaily

Bagikan

karya

Sebuah bangunan komersial di tengah pusat bisnis Jakarta menjadi salah satu peraih “Building of the Year 2026” dari media digital ArchDaily. Karya tim RAD+a yang dikomandani oleh Dadi Prasojo dan Antonius Richard Rusli ini serta Mortier, menjadi pemenang pada kategori Public & Landscape Architecture. Karya yang berfungsi sebagai creative compound ini menjadi satu-satunya pemenang dari Indonesia.

Penghargaan tahunan dari ArchDaily pada tahun ini diberikan kepada 15 proyek di seluruh dunia, dari berbagai kategori. Dipilih melalui pemungutan suara publik selama tiga minggu, para pemenang mewakili lansekap arsitektur saat ini, mencerminkan keragaman pendekatan, material, dan estetika, sekaligus menampilkan benang merah yang sama di berbagai budaya.

Pada edisi ke-17, panitia menerima lebih dari 120.000 suara dari lebih dari 100 negara, sekaligus memecahkan rekor untuk penghargaan arsitektur berbasis komunitas terbesar di dunia. Para pemenang mewakili 14 negara, budaya, dan perspektif yang berbeda, yakni dari Brasil, Kanada, Chili, Kolombia, Denmark, Ethiopia, Jerman, India, india, Jepang, Portugal, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Christele Harrouk, Editor-in-Chief ArchDaily, menyampaikan, “Di berbagai kategori, pembaca lebih menyukai proyek-proyek yang berakar pada kecerdasan material dan didefinisikan oleh substansi dan kedalaman. Karya-karya pemenang menonjol karena kejelasan maksudnya, yang diterjemahkan dengan mulus ke dalam ekspresi bangunan dan menandai pergeseran menuju arsitektur berskala manusia dan selaras secara sosial.”

Hasil Karya Material Daur Ulang

karyaBangunan yang berdiri di lahan seluas 3.000 m2 dan rampung pada tahun 2025 ini, didirikan dari material daur ulang. Tim RAD+a menerangkan, pengembangan bangunan ini mengunakan prinsip struktur kisi, yang telah menjadi elemen penting dalam iklim tropis Indonesia yang panas dan lembap selama ratusan tahun. Struktur inilah yang merupakan komponen identitas kunci untuk pengendalian iklim yang esensial dan contoh brilian dari desain bioklimatik, dan dari struktur inilah tempat ini diberi nama.

Kisi-kisi tersebut bersumber dari 4.800 kg limbah plastik yang dikumpulkan dari aktivitas di Sudirman CBD, lokasi proyek ini. Hasil daur ulang limbah tersebut menghasilkan 16.800 unit pelat kisi-kisi. “Dengan mengintegrasikan sistem material daur ulang ini ke lokasi premium di Jakarta, struktur ini menjadi bukti nyata masalah pengelolaan limbah, mengingatkan masyarakat dan pembuat kebijakan tentang 7 juta ton plastik yang tidak diolah setiap tahunnya di Indonesia,” tulis ArchDaily.

Prinsip struktur kisi-kisi tersebut ketika diadaptasi kembali dengan kebebasan dan fleksibilitas desain yang lebih besar melalui pengkodean ganda (fungsi dan simbolisme), kisi-kisi menjadi perangkat peneduh modern berkinerja tinggi. Sekaligus berfungsi sebagai layar yang kaya secara visual dan relevan secara kontekstual, mengingatkan pada eksperimen arsitektur lokal dalam keberlanjutan.

Disempurnakan oleh geometri kabel yang tegang, elemen plastik daur ulang tersebut menciptakan bentuk gelombang yang seakan menari di antara pepohonan. Kulit kisi pembungkus ini diturunkan secara parametrik untuk memberikan perlindungan matahari yang dihitung dengan cermat, juga berfungsi sebagai mekanisme pengontrol iklim dan simbol arsitektur bioklimatik yang responsif.

baca juga: Tiongkok Daratan, Negara dengan Gedung Besertifikat LEED Terbanyak

Lansekap Eksisting Dilestarikan

karya

Bangunan ini hanya menutup 40% dari luas tapak. Ruang-ruang di bawahnya dijalin dengan pepohonan esksisting yang punya tinggi sampai 20 meter. Alih-alih memperlakukan lansekap sebagai pelengkap arsitektur, prosesnya direkayasa balik: massa bangunan dihasilkan di sekitar zona pepohonan yang dilestarikan. Demikian papar RAD+a.

karya

Hal ini menciptakan dialog yang dinamis antara selubung parametrik dan alam, yang dihubungkan oleh teras berpori yang memungkinkan pepohonan tumbuh subur sekaligus mengoptimalkan area fungsional. Bentuk bangunan yang dihasilkan memaksimalkan efisiensi sewa melalui serangkaian teras luar ruangan transisi yang menghubungkan fasad parametrik dengan pepohonan, mengakomodasi pertumbuhan pepohonan sekaligus mempertahankan nilai komersial.

Dengan memisahkan fasad untuk menciptakan lorong berangin dan cerobong termal, serta mengganti lift mekanis dengan jalur landai yang berkelok, desain ini menantang tipologi standar sirkulasi vertikal. Hasilnya adalah pengurangan signifikan dalam ketergantungan pada pendingin ruangan dan lift.

RAD+a menyatakan hal ini menggambarkan bahwa dalam ekonomi yang sedang berkembang, responsivitas lingkungan tidak perlu dikorbankan demi keuntungan ekonomi.

 

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *