INPP Memenangi Pasar dengan Inovasi

Bagikan

PT Indonesia Paradise Property Tbk (INPP) membuktikan, inovasi dan kreativitas menjadi dua hal yang membuatnya berhasil memenangi pasar.

“Proyek pertama INPP adalah Harris Hotel Tuban-Bali, hotel untuk kalangan anak muda yang pada waktu itu belum ada yang membangun secara khusus,” kata Agoes Soelistyo Santosa, Cofounder & Commissioner INPP, kepada media di Jakarta, 28/10.

Agoes mengungkapkan, pihaknya terinspirasi oleh kehadiran low cost airline di awal era milenium, yang membuat semakin banyak orang bisa menggunakan pesawat untuk berlibur, termasuk anak muda. Sementara itu, kala itu layanan hotel berbintang pun lebih bersifat resmi, jauh dari gaya anak muda yang umumnya menyukai gaya kasual. Dan Tuban, imbuh Agoes, juga masih belum dilirik pebisnis hotel berbintang, padahal lokasinya dekat bandara dan Pantai Kuta.

Harris menawarkan hal baru, konsep layanan kasual dan desain yang berbeda, seperti keberaniannya memakai warna jingga  sebagai brand color. Hal berbeda itu ternyata diterima pasar dengan baik, dan membuat, “Harris hotel jadi trend setter akomodasi wisata terutama yang menyasar traveler muda,” tutur Agoes.

Keberanian berkreasi ditambah dengan intuisi bisnis, mendorong INPP untuk terus berkembang. Proyeknya tidak lagi sebatas hotel, juga merambah ke proyek multifungsi dan ritel. Masing-masing proyek memiliki keunikan dan keunggulannya masing-masing. Seperti Plaza Indonesia Jakarta yang menyasar kelas atas, merangkum shopping center, office building the Plaza, apartemen Keraton at The Plaza dan Grand Hyatt Hotel. Lalu Sahid Kuta Lifestyle Resort, Bali, yang merangkum Beachwalk shopping center, serta tiga hotel dengan beda kelas (Sheraton Bali Kuta Resort, Yello Hotel Kuta Beach dan Aloft Bali Kuta).

“Saat kami menawarkan kepada pihak Sheraton, pada awalnya mereka tidak mau, dan menawarkan brand dengan kelas di bawahnya. Alasan mereka, imej daerah Kuta tidak pas dengan brand tersebut. Tapi kami berhasil meyakinkan dan sekarang hotel itu hampir selalu full book, antara lain untuk corporate meeting,” papar Agoes. Untuk diketahui Sheraton adalah salah satu brand premium di bawah jaringan Starwood Hotels and Resorts and Marriott International, sekelas dengan Westin, dan Le Meridien.

Kasual dan suasana pantai tropis menjadi konsep yang diusung Beachwalk shopping center dan adanya tiga brand hotel dengan kelas berbeda, menurut Agoes, menjadi nilai lebih dari proyek tersebut.

Tanpa NUP

Inovasi serta intuisi bisnis adalah yang juga mendorong INPP masuk ke bisnis residensial, pada di tahun 2017. Diawali dengan membangun One Residence Batam yang disusul dengan 31 Sudirman Suite and Hyatt Place Hotel di Makassar, lalu yang terbaru Antasari Place, Jakarta. Serupa dengan proyek-proyek komersialnya, pada proyek residensial, INPP juga mendesainnya dengan konsep dasar iconic lifestyle destination.

Dengan konsep dasar itu, dua apartemen pertamanya, dirancang sebagai hunian eksklusif, berfasilitas mewah dan menyasar kalangan kelas atas. Berani membentuk pasar baru, membuat banyak orang pada awalnya meragukan INPP. “Saat kami menawarkan 31 Sudirman Suite dengan harga jual Rp 5 miliar untuk tipe tertingginya, 3 bedroom private suites, banyak orang juga tidak yakin kalau pasar Makassar bisa menyerap,” ungkap Anthony Prabowo Susilo, President Director & CEO INPP.

Sementara itu, One Residence Batam mempunyai nilai lebih karena bersisian dengan Harris Hotel Batam Center dan berjarak hanya selangkah dengan Terminal Ferry Batam Center yang melayani rute Batam-Singapura. Menyasar kelas premium, apartemen ini dilengkapi dengan fasilitas antara lain seaview deck, infinite sea view swimming pool dan seaside promenade.

Adapun Antasari Place yang berada di dalam area CBD Simatupang, Jakarta Selatan yang sedang berkembang, mengusung konsep work, live and play in one place. Merangkum dua menara apartemen dan tiga lantai retail promenade, 70 persen dari luas lahannya (2,5 ha) dijadikan sebagai ruang terbuka hijau, memberi nilai lebih apartemen ini.

Anthony mengungkapkan semua apartemen yang dibangun INPP tidak dijual dengan sistem NUP atau pemesanan unit di awal. Sebab, katanya, ”Kami tidak mengandalkan hasil pemesanan atau penjualan untuk membangun. Bahkan, kami membangun di awal waktu yang direncanakan, agar bisa diserahterimakan tepat waktu sesuai dengan janji kepada pembeli, dan itu komitmen kami.”

Dengan itu semua, “Banyak capaian positif yang sudah dilakukan INPP, namun beberapa indikator perlu ditingkatkan, seiring kondisi ekonomi domestik yang diperkirakan akan terus berangsur pulih,” jelas Hadi Cahyadi, Wakil Presiden Komisaris dan Komisaris Independen INPP.

Ke depan, terang Anthony, INPP akan memperkuat lini bisnis residensial dan menjadi proyeksi utama pengembangan bisnisnya. Dengan motto-nya, “we develop and create iconic lifestyle destinations in Indonesia’s greatest cities”, INPP akan mengembangkan properti-properti baru di kota-kota lain, seperti Bogor, Semarang dan Balikpapan.

“Kami sudah membuktikan INPP mampu bertahan dan tetap membangun di tengah masa pandemi, bahkan empat unit bisnis kami mulai beroperasi di masa pandemi ini. Kami optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif juga akan membawa INPP semakin kuat membangun negeri,” tandas Anthony.

Artikel Terkait

Leave a Comment