Bank Indonesia: Penjualan Rumah Terus Turun

Bagikan

rumah

Penjualan properti residensial atau rumah di pasar primer pada triwulan II 2025 secara tahunan mengalami penurunan, terkontraksi sebesar 3,8% (yoy). Demikian hasil survei Bank Indonesia, yang dituangkan dalam Laporan Survei Harga Properti Residensial (DHPR) Trwiulan II 2025.

Hal tersebut disebabkan oleh penjualan tipe rumah besar dan menengah, yang melambat dibanding periode yang sama di tahun lalu. Penjualan tipe besar terkontraksi sebesar 14,95% (yoy), lebih dalam dari triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 11,69% (yoy). Sementara, penjualan tipe menengah merosot 17,69% (yoy), walaupun menunjukkan ada perbaikan, karena pada triwulan sebelumnya sempat anjlok sedalam 35,76%. Hasil penjualan yang baik hanya terjadi pada tipe kecil yang tumbuh 6,7%, meskipun ini juga jauh lebih lambat dari pencapaian triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 23,75% (yoy).

Berdasarkan hasil survei, penghambat utama pengembangan dan penjualan residensial primer tersebut, disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan (19,97%) dan masalah perizinan/birokrasi (15,13%) disusul oleh masalah suku bunga KPR (15%), proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR (11,38%) dan perpajakan (1,38%).

baca juga: 10 Organisasi Nasional Nyatakan Dukung Program 3 Juta Rumah pada IPBA XIX 2025

Hal kenaikan harga bahan bangunan terus menjadi masalah utama dari kondisi belum baiknya pasar rumah di negeri ini selama ini. Setidaknya ini bisa dilihat dari laporan serupa di tahun 2022 yang menyebutkan harga material sudah jadi masalah yang paling banyak disebut responden.

Sementara itu, tentang suku bunga KPR, pada kuartal kedua ini responden lebih melihat soal birokrasi yang lebih jadi masalah dibandingkan suku bunga KPR. Hal ini seiring dengan kebijakan Bank Indonesia yang secara bertahap menurunkan suku bunga acuan (BI Rate), jika pada Januari ebesar 5,75%, pada Mei menjadi 5,5% bahkan sejak 16 Juli menjadi 5,25%.

Mesk demikian, ternyata penurunan suku bunga acuan dan KPR tidak cukup mendorong bertambahnya penggunaan KPR sebagai sumber dana pembelian rumah oleh konsumen. Menurut SHPR Bank Indonesia, pada triwulan II 2025, total nilai KPR secara tahunan “hanya” tumbuh sebesar 7,81% (yoy), lebih rendah daripada kondisi kuartal sebelumnya yang naik 9,13% (yoy).

Penurunan ini sudah terjadi sejak triwulan II 2024. Melemahnya daya beli, masih relatif tingginya suku bunga KPR ditambah dengan Kebijakan pemerintah di sektor properti (baca: perumahan) yang tidak jelas dan kerap berubah, disinyalir menjadi penyebab penurunan ini.

Harga Rumah Naik Tipis

Menurunnya penjualan mengakibatkan indeks harga rumah melemah pertumbuhannya. SHPR Bank Indonesia menampilkan bahwa Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan II 2025 secara tahunan tumbuh 0,9% (yoy). Ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I 2025 yakni sebesar 1,07% (yoy).

Hal tersebut sebagai akibat dari melambatnya pertumbuhan harga rumah tipe kecil dan besar yang masing-masing sebanyak 1,04% (yoy) dan 0,7% (yoy). Lebih rendah dibandingkan kondisi triwulan I 2025, yang masing-masing sebesar 1,39% (yoy) dan 0,97% (yoy). Hanya rumah tipe menengah yang masih alami peningkatan secara tahunan, yakni dari 1,14% (yoy) menjadi 1,25% (yoy).

Pertumbuhan yang melambat ini sudah terlihat sejak triwulan awal tahun lalu. Setelah sempat di posisi 1,89%, secara perlahan penurunan terus terjadi hingga kuartal II tahun ini. Hal ini setali tiga uang dengan kinerja penyaluran KPR, seperti dinyatakan di atas, sebagai dampak dari kondisi ekonomi yang kian sulit.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *