Mini Exhibition Karya Emte Buka “Road to ICAD 16”

Bagikan

mini

Sebuah mini exhibition sedang digelar di Hotel Grankemang – Jakarta, menampilkan karya Mohammad Taufiq atau Emte. Pameran ini menjadi awal dari rangkaian pra-festival bertajuk “Road to ICAD 16” menjelang festival utamanya pada 8 Oktober – 8 November 2026 mendatang, yang bertema “Being: Becoming”.

Tema “Being: Becoming” tersebut diangkat, untuk merefleksikan hubungan antara kondisi masa kini dengan kemungkinan di masa depan. Dalam keterangan resminya, ICAD menyoroti bagaimana kehidupan hari ini dibentuk oleh masa lalu, sekaligus menentukan arah yang akan datang, di tengah perubahan dunia yang dipengaruhi algoritma, krisis ekologi, hingga warisan kolonial.

Festival Director ICAD, Edwin Nazir, mengatakan Road to ICAD menjadi format baru yang dihadirkan tahun ini, sebagai pengantar menuju festival utama. Ia menyebut rangkaian tersebut akan terdiri dari dua seri pendahuluan, dengan pameran Emte menjadi pembuka sebelum karya lain kembali ditampilkan pada penyelenggaraan ICAD Oktober mendatang.

Emte adalah ilustrator dan seniman asal Jakarta yang telah berkarya sejak akhir 1990-an. Dikuratori oleh Harry Purwanto, Itjuk Rahayu, dan Zefanya Silva, dalam mini-exhibition-nya kali ini Emte menghadirkan dua seri karya, yakni Landslide dan Pixel Deep. Seri Landslide memvisualisasikan perjalanan hidup dan praktik artistiknya melalui metafora longsor, lengkap dengan kontur miring dan permainan warna yang beragam.

miniMenurut Emte, pola visual yang berulang dalam seri tersebut merepresentasikan bentuk longsor yang sama, sementara ragam warna di dalamnya menjadi gambaran dinamika dirinya sebagai seniman yang terus berubah dan tidak selalu berada dalam kondisi stabil.

Sementara itu, Pixel Deep mengangkat isu batas privat dan publik di era media sosial melalui figur-figur yang berswafoto di ruang personal, seperti kamar tidur hingga kamar mandi. Pada penampilan perdananya, karya-karya dalam seri tersebut juga diperlakukan layaknya barang di pasar yang dapat langsung dibeli dan dibawa pulang pengunjung.

“Berkarya buat saya bukan cuma soal membuat gambar, tapi juga bagaimana karya itu bisa berdialog dengan publik. Sampai sekarang saya masih terus mencoba pendekatan-pendekatan baru yang belum pernah saya lakukan sebelumnya,”  ujar Emte, saat pembukaan mini-pameran. (7/5).

Ia juga menuturkan bahwa ketidakpastian justru membuatnya terus beradaptasi dan mencoba berbagai bentuk kerja kreatif, mulai dari commision work, desain grafis, hingga pameran tunggal dan peluncuran buku.

mini

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Direktorat Jenderal Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan, menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi ICAD dalam mendukung perkembangan seni dan desain kontemporer di Indonesia. ICAD dinilai bukan sekadar ruang pamer, tetapi juga menjadi ruang inkubasi tempat seni, desain, dan gagasan masa depan saling berdialog.

baca juga: Karya SBY Hadir di Gelaran Seni ICAD-15

Selain menghadirkan karya seni, mini exhibition pembukaan Road to ICAD 16 juga dilengkapi konsep canapès bertajuk “Paint Dip”. Sajian colorful edible dips berbahan alami tersebut terinspirasi dari aktivitas melukis dan dirancang untuk menghadirkan pengalaman kuliner yang selaras dengan semangat eksploratif dalam pameran.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *