
Produk lokal Indonesia memiliki peluang semakin luas untuk menembus pasar internasional melalui Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang berlangsung pada 14-18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. Pameran dagang internasional yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan ini mempertemukan pelaku usaha nasional dengan buyer mancanegara, sekaligus membuka kesempatan bagi produk unggulan Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar.
Mengusung tema The Ultimate Hub for Global Sourcing, TEI 2026 diikuti 1.873 ekshibitor dengan buyer yang telah terdaftar berasal dari 134 negara. Pameran ini menargetkan 30.000 pengunjung dan potensi transaksi mencapai USD 17,5 miliar. Beragam produk ditampilkan, mulai dari makanan dan minuman, pertanian, manufaktur, fesyen, kriya, furnitur, dekorasi rumah, hingga kawasan industri.
Bagi industri properti dan gaya hidup, kehadiran furnitur, dekorasi rumah, serta produk kriya menjadi salah satu daya tarik TEI 2026. Produk-produk tersebut tidak hanya berpeluang menjangkau konsumen domestik, tetapi juga pasar internasional yang mencari produk dengan karakter, kualitas, dan nilai tambah.
Momentum ini turut diperkuat oleh partisipasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) yang membawa 46 jenama binaan untuk memperluas akses pasar global. Melalui partisipasi tersebut, produk kreatif lokal didorong agar tidak berhenti pada tahap promosi, tetapi mampu menghasilkan transaksi ekspor yang berkelanjutan.
Produk Furnitur dan Kriya Lokal Berpeluang Menjangkau Pasar Internasional

Dalam TEI 2026, Kementerian Ekraf menghadirkan tiga booth yang mewadahi 46 jenama dari subsektor kriya, kuliner, dan fesyen. Komposisinya terdiri atas 18 jenama kriya, 16 jenama kuliner, dan 12 jenama fesyen.
Sejumlah jenama kriya yang berpartisipasi antara lain Kampung Kaleng, M.A.R.S Genuine Leather, Ketak Nusantara, Kampoeng Anyaman, Passion of Art Indonesia (POAI), Aulian Toys, Danrizco, Decak Handmade, Kriyamic, Djoen Leather, dan Ride One Gallery. Kehadiran pelaku usaha dari subsektor ini memperlihatkan beragam potensi produk kreatif Indonesia yang dapat dikembangkan untuk menjangkau pembeli internasional.
Bagi sektor hunian, produk kriya dan kerajinan memiliki keterkaitan dengan kebutuhan interior, dekorasi, serta pengembangan karakter ruang. Produk berbahan lokal dengan desain khas dapat menjadi alternatif bagi pasar yang mencari elemen dekoratif berbeda, baik untuk hunian maupun kebutuhan komersial. Namun, peluang tersebut tetap perlu didukung konsistensi kualitas, desain yang sesuai dengan kebutuhan pasar, dan kemampuan memenuhi standar ekspor.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menyampaikan bahwa partisipasi dalam TEI 2026 menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat kesiapan ekspor, membuka akses kepada pembeli internasional, dan mendorong jenama lokal berkembang menjadi pemain global.
Seluruh jenama yang berpartisipasi merupakan hasil binaan program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK). Jenama kriya dan kuliner berasal dari ASIK batch 2 dan batch 3, sedangkan jenama fesyen merupakan binaan ASIK batch 1 dan batch 2.
Melalui program tersebut, pelaku usaha memperoleh dukungan untuk memperkuat kapasitas bisnis dan kesiapan memasuki pasar ekspor. Aspek kualitas produk, kemasan, pemenuhan standar pasar, promosi, pembiayaan, serta jejaring distribusi menjadi bagian penting dalam membangun daya saing produk kreatif Indonesia.
TEI 2026 Dorong Daya Saing Produk Indonesia Melalui Hilirisasi dan Penguatan Ekspor

Pembukaan TEI ke-41 dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, yang mewakili Presiden Prabowo Subianto. Dalam sambutannya, Bahlil menekankan pentingnya hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa TEI menjadi salah satu upaya pemerintah mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon pembeli dari berbagai negara. Pada hari pertama pameran, direncanakan penandatanganan 168 nota kesepahaman (MoU) antara eksportir Indonesia dan buyer dari 22 negara.
Penyelenggaraan TEI 2026 juga sejalan dengan tiga program prioritas Kementerian Perdagangan, yakni Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, dan Dari Lokal untuk Global. Ketiganya diarahkan untuk memperkuat daya saing produk nasional, memperluas akses pasar internasional, serta mendorong lebih banyak pelaku usaha memasuki pasar ekspor.
Dari sisi ekonomi kreatif, data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Ekraf menunjukkan bahwa Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor ekonomi kreatif Indonesia pada Januari-April 2026, dengan nilai mencapai USD 3,31 miliar. Ekspor tersebut didominasi subsektor fesyen sebesar USD 2,80 miliar, diikuti kriya senilai USD 480 juta dan kuliner sebesar USD 15,55 juta.
Data tersebut menunjukkan besarnya kontribusi subsektor kreatif terhadap perdagangan internasional Indonesia. Meski demikian, perluasan pasar bagi jenama lokal juga membutuhkan pengembangan produk yang berkelanjutan serta kemampuan menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan standar negara tujuan.
Kementerian Ekraf menilai kolaborasi lintas kementerian dan lembaga diperlukan untuk memperkuat ekosistem ekspor nasional. Sementara itu, Kementerian Perdagangan terus mendorong perluasan akses pasar melalui perundingan dagang, fasilitasi penjajakan bisnis, serta dukungan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.
Melalui TEI 2026, produk lokal diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk menjangkau pembeli internasional dan meningkatkan nilai tambah ekonomi. Bagi pelaku industri furnitur, dekorasi rumah, dan kriya, momentum ini juga menjadi peluang untuk memperkenalkan desain serta karakter produk Indonesia kepada pasar global, sekaligus memperkuat posisi produk lokal dalam persaingan industri kreatif internasional.











