
Generasi muda semakin memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi kreatif Indonesia. Tidak hanya sebagai konsumen produk kreatif, anak muda juga didorong untuk menghasilkan ide, karya, hingga usaha baru yang dapat memberikan dampak bagi masyarakat.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam audiensi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) bersama Kartini Heritage Center di Jakarta, pada Selasa (29/9). Pertemuan tersebut membahas peluang kolaborasi untuk memperkuat keterlibatan generasi muda dalam mengembangkan potensi budaya dan kreativitas daerah.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan energi perubahan dapat lahir dari kreativitas anak muda. Karena itu, berbagai inisiatif yang mendorong mereka menghasilkan karya dan gagasan dinilai memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan ekosistem kreatif nasional.
“Kami menyambut baik inisiatif strategis ini karena energi perubahan bangsa selalu lahir dari tangan-tangan muda yang berdaya cipta. Ide ini sangat bagus dan memiliki banyak keterkaitan dengan ekosistem ekonomi kreatif,” ujar Teuku.
Menurutnya, peluang kolaborasi tersebut selanjutnya akan didiskusikan bersama direktorat terkait di lingkungan Kementerian Ekraf. Dengan begitu, gagasan yang muncul dapat diselaraskan dengan program pengembangan sektor kreatif yang sudah berjalan.
Potensi Besar Ekonomi Kreatif Generasi Muda

Besarnya kontribusi generasi muda juga terlihat dari komposisi tenaga kerja di sektor tersebut. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Ekraf, Gen Z dan Milenial menyumbang sekitar 63% tenaga kerja ekonomi kreatif Indonesia.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 17,26 juta orang dari total 27,40 juga tenaga kerja nasional di sektor kreatif. Potensi tersebut tersebar di 21 subsektor yang terbagi ke dalam 4 klaster, yaitu kreativitas seni dan budaya, kreativitas desain, kreativitas teknologi dan digital, serta kreativitas media.
Data tersebut memperlihatkan bahwa industri kreatif memiliki ruang yang luas bagi anak muda untuk berkarya. Peran mereka tidak terbatas pada bisang seni dan budaya, tetapi juga mencakup desain, teknologi, media, hingga berbagai aktivitas digital.
Salah satu upaya yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah The Legacy Relay 2026, sebuah forum yang dirancang untuk mendorong generasi muda mengolah gagasan menjadi karya dan aksi nyata.
Dalam momentum Sumpah Pemuda 2026, Yayasan Kartini Heritage Center bersama The Habibie Center akan menggelar The Legacy Relay 2026 Special Sumpah Pemuda Forum. Forum tersebut mengangkat pertanyaan “What Will Our Generation Leave Behind?” dan akan mempertemukan sekitar 200 peserta dari berbagai latar belakang.
Peserta yang terdiri dari pemuda, profesional, akademisi, dan kreator akan diajak menggali nilai perjuangan 3 tokoh nasional, yakni Mohammad Hatta, R.A. Kartini, dan B.J. Habibie. Gagasan yang muncul kemudian diarahkan untuk menghasilkan rangkaian karya dan aksi.
Konsep tersebut dirangkum melalui “200 Voices – 200 Leaters – 28 Selected Ideas – 1 Book – 3 First Actions”. Rangkaian ini menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan pandangan sekaligus mengembangkan gagasan yang dapat diterapkan dalam kehidupan dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut juga berpotensi dikaitkan dengan penyelenggaraan World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta pada 21-23 Oktober 2026. WCCE 2026 mengusung tema Inclusive Creative: Collective Continuity.
Teuku Riefky menyebut momentum tersebut dapat menjadi peluang untuk mengkomunikasikan inisiatif The Legacy Relay sekaligus melihat kemungkinan kolaborasi dengan rangkaian kegiatan WCCE 2026.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Kartini Heritage Center, Joddy Mulyasetya Putra, mengapresiasi keterbukaan Kementerian Ekraf terhadap potensi kolaborasi. Menurutnya, dukungan terhadap ekonomi kreatif dapat membuka peluang lebih luas bagi kegiatan yang berkaitan dengan kemandirian ekonomi.
Ke depan, keterlibatan anak muda diharapkan tidak hanya menghasilkan karya yang memiliki nilai budaya, tetapi juga berkembang menjadi aktivitas produktif. Dengan dukungan ekosistem yang tepat, ide yang berangkat dari budaya dan pengalaman lokal dapat dikembangkan menjadi produk, layanan, maupun usaha yang memiliki nilai ekonomi.











