Jakarta Heritage, Menikmati Gedung-Gedung Bersejarah Naik Open Top Tour Bus

Bagikan

jakarta

Perdana diluncurkan pada Desember tahun lalu, PT TransJakarta meresmikan peluncuran rute baru dari program Open Top Tour Bus. Bertajuk “Jakarta Heritage” pada awal Oktober 2025, rute ini menghadirkan pengalaman menjelajahi peradaban dan bangunan bersejarah di kawasan Weltevreden, yang sekarang lebih dikenal sebagai area Monas – Lapangan Banteng. Rute baru ini berawal dari Pos Bloc, melintasi Gedung Kesenian Jakarta, Lapangan Banteng, Gereja Katedral, Masjid Istiqlal, Monumen Nasional serta Istana Negara.

Rute ini beroperasi dalam beberapa sesi, yakni Sunset Tour (16.00 WIB dan 17.00 WIB) dan Night Tour (18.00 WIB, 19.30 WIB, dan 20.30 WIB). Untuk mengikuti program, wisatawan bisa memesan tiket melalui aplikasi Transjakarta, dengan tarif Rp.50.000 rupiah per orang. Selama perjalanan, penumpang akan didampingi tour guide yang akan menjelaskan sejarah gedung-gedung yang dilewati dan wisatawan bisa mendengar melalui headphone, yang tersedia di dalam bus. Selain itu, penumpang juga akan mendapat stiker serta gelang penanda tiket yang bisa ditukar di konter resmi di Pos Bloc.

“Kawasan yang dilintasi rute ini akan menjadi kawasan destinasi wisata baru. Untuk merealisasikan rencana pengembangan konsep destinasi kawasan wisata ini, kami juga telah menjalin kerjasama dengan pengelola Gedung Maramis Kementerian Keuangan RI,” tutur Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, mengutip dari situs https://pusat.jakarta.go.id/.

Rano juga mengatakan dengan rute baru layanan bus wisata ini maka akan menghidupkan kembali kawasan Pasar Baru. Untuk itu, pihaknya akan merevitalisasi kawasan salah satu pusat perekonomian Jakarta tersebut. “Semoga rute ini semakin memperkuat pariwisata kota, memberi pengalaman dan berkesan bagi siapa saja,” tandasnya.

Wisata Topang Ekonomi Jakarta

Dibukanya program berkeliling kota dengan bus beratap terbuka ini adalah salah satu upaya Pemprov DKI Jakarta menggiatkan ekonomi kotanya, melalui sektor pariwisata. Seperti diketahui, pariwisata (dan ekonomi kreatif) adalah salah satu upaya menghidupkan perekonomian sebuah kota dan dapat memberi dampak positif yang besar.

Seperti dinyatakan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, potensi sektor parekraf merupakan peluang besar untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi kota ini. Mengutip dari situs beritajakarta.id, Iwan menyatakan, sektor jasa menyumbang 56,4 persen bagi perekonomian kota. Sektor tersebut mencakup perdagangan, transportasi, akomodasi, kuliner, seni, hiburan, hingga jasa profesional maupun kreatif. “Seluruh bidang usaha tersebut erat kaitannya dengan pariwisata dan ekonomi kreatif, yang terbukti mampu memberikan multiplier effect besar bagi kota,” katanya.

jakartaKomitmen untuk mengembangkan wisata kota lewat Open Top Tour juga ditegaskan perumda ibukota negara ini. Menurut Direktur Bisnis dan Pemanfaatan Aset PT Transjakarta, Fadly Hasan, antusiasme masyarakat terhadap rute perdana tinggi dan selalu penuh peminat. Bahkan warganet kerap berkomentar di akun resmi Instagram-nya, perihal sering “kalah war” tiket di kanal resmi. Hal ini menjadi dorongan kuat untuk terus menghadirkan inovasi produk pariwisata yang relevan dengan kebutuhan publik.

Untuk diketahui rute perdana layanan bus wisata ini berlabel “Jakarta Skyline”, dengan rute melewati jalan utama dan kawasan bisnis ibukota negara ini.

baca juga: Rayakan Hari Pariwisata Dunia 2025, Yuk Ikut “Cobain!”

Kota-kota dunia seperti London atau Singapura pun memiliki bus wisata beratap terbuka dan layanannya terbukti mendatangkan multiplier effect, yakni menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat brand kota, serta menghidupkan sektor pendukung seperti kuliner dan suvenir. Kota yang dulu bernama Jayakarta ini pun berpeluang besar menapaki jalur serupa.

Iwan mencontohkan, banyak acara yang digelar di kota besar mampu memberi nilai tambah ekonomi, antara lain marathon atau running race events. Kantor Perwakilan BI Jakarta mencatat, dari acara BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) yang digelar pada Juni lalu, memberi nilai tambah ekonomi hingga Rp55,72 miliar serta melibatkan sekitar 1.081 tenaga kerja. “Hal ini membuktikan bahwa sektor pariwisata dan ekonomi kreatif mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan,” tandasnya.

Sebelumnya, PT Transjakarta juga menggandeng PT Sarinah (Persero) untuk pengembangan rute ini. Berdasarkan nota kesepahaman (MoU) yang sudah ditandatangani pada 19 Maret 2025, rute ini akan melewati berbagai situs bersejarah di ibukota ini, antara lain Bundaran HI, Museum Nasional, dan Sarinah tentunya, sebagai pusat perbelanjaan yang juga memiliki nilai sejarah.

Dalam acara tersebut, Direktur Komersial PT Sarinah, Selfie Dewiyanti, menyatakan, “Kemitraan ini membuka peluang besar bagi wisatawan untuk menjelajahi kota dengan cara yang lebih menarik dan berkesan. Kami ingin menghadirkan pengalaman wisata yang menyeluruh, menghubungkan perjalanan sejarah dengan kenyamanan berbelanja dan bersantai di Sarinah.” (*arsya)

Artikel Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *